Visakha: Perempuan Multitalenta di Zaman
Buddha

Visakha, dikenal sebagai salah satu
upāsikā (umat perempuan awam) terkemuka di zaman Buddha. Ia berasal dari
keluarga kaya raya, putri seorang saudagar kaya bernama Dhanañjaya. Sejak
kecil, ia telah menunjukkan kebijaksanaan dan kedermawanan yang luar biasa.
Ketika menikah dengan Punnavaddhana, putra seorang hartawan di Savatthi,
Visakha tidak hanya menjadi istri yang setia, tetapi juga menantu yang
berbakti, ibu yang penuh kasih, dan penyokong Sangha yang tak kenal lelah.

Salah satu kisah terkenal tentang
Visakha adalah ketika ia dengan sabar menghadapi ujian sebagai menantu.
Mertuanya, Migāra, awalnya adalah seorang penganut ajaran lain, namun berkat
kesabaran dan kebijaksanaan Visakha, akhirnya memeluk Buddha Dhamma. Visakha
juga dikenal sebagai donatur utama Vihara Jetavana, yang dibeli dengan emas
yang ia sumbangkan. Ia rutin memenuhi kebutuhan para bhikkhu, termasuk jubah,
makanan, dan obat-obatan, tanpa pernah melalaikan perannya di rumah tangga

Visakha adalah teladan dalam
menjalankan peran ganda: sebagai istri, ibu dari dua puluh anak , menantu, dan
umat Buddha yang taat. Ia selalu hidup dalam sila (moralitas), menjaga ucapan
dan perbuatannya agar selaras dengan Dhamma. Dalam Vinaya Pitaka dan Khuddaka
Nikaya
, Buddha memuji Visakha sebagai perempuan ideal yang mampu
menyeimbangkan kehidupan duniawi dan spiritual. Namanya disebut empat belas
kali dalam Kitab Suci Pali, bukan tanpa alasan. Visakha bukan sekadar wanita
kaya, melainkan teladan nyata tentang kecerdasan emosional dan keseimbangan
hidup yang sempurna.

Melalui kisahnya, kita diajak untuk
merenung: Sudahkah kita menyeimbangkan semua peran hidup dengan bijak seperti
Visakha? Apakah kita juga memberi ruang bagi pertumbuhan spiritual di tengah
kesibukan duniawi? Inilah pelajaran abadi yang ia wariskan tidak hanya untuk
perempuan di zamannya, tetapi juga untuk kita semua yang hidup di era modern
ini.

Keteladanan Visakha bagi Perempuan Modern

Suatu malam, ketika Visakha pulang larut setelah mendengarkan khotbah Buddha, suaminya tampak kesal. Namun, alih-alih membalas dengan emosi, Visakha merespons dengan kebijaksanaan yang menyentuh: "Aku tadi seperti orang sakit yang bertemu tabib. Tidakkah kau senang aku pulang membawa 'obat' Dharma untuk kita berdua?" Kata-katanya yang penuh makna tidak hanya meredakan amarah suaminya, tetapi juga mengubah konflik menjadi momen saling memahami.

Banyak perempuan modern terjebak dalam tuntutan kesempurnaan: ingin suami ideal, karier gemilang, anak-anak berprestasi, sekaligus aktif di komunitas. Ada yang menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karier, aktivis, atau pengurus organisasi Buddhis. Namun, tak jarang keseimbangan itu goyah, konflik rumah tangga memuncak dan spiritualitas terabaikan di tengah kesibukan.

Di zaman sekarang, konflik rumah tangga sering kali berujung pada ancaman perceraian sebagai solusi instan. Padahal, seperti yang diajarkan Visakha, setiap masalah bisa menjadi kesempatan untuk memperdalam pengertian antara pasangan jika disikapi dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Tantangan terbesar perempuan modern bukanlah konflik itu sendiri, melainkan bagaimana menyikapinya dengan kesadaran penuh tanpa ego, tanpa sikap menyalahkan, tetapi dengan kemauan untuk benar-benar mendengar dan memahami. Jika hubungan masih sehat dan layak dipertahankan, bertahan dengan kesadaran seperti Visakha adalah pilihan bijak. Komunikasi yang jernih dan empati bisa mengubah konflik menjadi batu pijakan untuk hubungan yang lebih kuat.

Mengapa kisah Visakha masih relevan hingga kini? Karena ia mengajarkan kita bahwa

ketangguhan seorang perempuan bukan terletak pada kekerasan hati, melainkan pada kebijaksanaan dan kelenturan batin. Ia tidak memaksakan kehendak, tetapi dengan sabar membimbing keluarganya menuju Dhamma. Ia tidak mengeluh saat melayani mertua, tidak menuntut suami sempurna, dan tidak lalai dalam berdana meski sibuk mengurus rumah tangga. Rutinitas rumah bukan alasan lupa spiritual, justru tempat latihan kesabaran terbaik!

Jadi, mak mak.... kalau batre HP low bisa bikin panik, apalagi batre batin kita yang sudah low battery karena sibuk ngurusin suami, anak, kerjaan kantor dan tumpukan cucian!  Jangan sampai kita jadi seperti dawai yang terus dipakai tapi nggak pernah di-charge—akhirnya hang, lemes, dan gampang error. Hidup di zaman now tuh kayak martabak, luarnya kelihatan crispy sempurna, dalemnya kadang masih adonan berantakan! Visakha ngajarin kita, jadi perempuan kuat bukan berarti harus perfect. Kalau lagi stres ngadepin bocah rewel atau suami yang kerjanya cuma ngeluhin remote TV hilang, itu wajar! Yang penting, kita tau kapan harus "pause" dan recharge.

Kapan terakhir kali kamu benar-benar istirahat, bukan sekadar rebahan sambil scroll TikTok?  Jaman Visakha aja yang gak punya mesin cuci atau pesan makanan onlen aja bisa seimbangkan hidup, masa kita yang udah dibantu teknologi malah kecapekan?

Yuk, mulai sekarang kasih jadwal buat diri sendiri , misal 15 menit meditasi pas anak tidur, luangin waktu ikut retret meditasi atau Day of Mindfulness ( DOM ) for Moms , bila memungkinkan ikut pabbajja! Bikin diri kita jadi dawai yang selalu full batre dan siap hadapi drama harian dengan senyum (atau setidaknya cemberut yang tetap anggun). Bila permasalahan tetap terasa berat, lakukan konseling kalau perlu, atau sekadar makan es krim di kamar tanpa rasa bersalah!

Ingat: Ibu yang bahagia itu seperti WiFi, kalau sinyalnya kuat, seluruh keluarga bisa "connect" dengan baik!

Belajar dari kisah Visakha ;  Perempuan kuat bukan yang bisa melakukan segalanya, tapi yang bisa memprioritaskan dengan bijak!


UP Mita Kalyani

03/04/2025

Scroll to Top