Apakah kita seperti batu, keras dan sulit menerima?
Atau seperti spons yang lembut, mampu menyerap dan memahami?
Di ruang kelas dan di rumah, sering kali percakapan hanya menjadi ajang menunggu giliran berbicara,
bukan kesempatan untuk memberi ruang pada perasaan.
Ada perbedaan besar antara mendengar untuk membalas,
dan mendengar untuk memahami.
Mengapa begitu?
Karena kita ingin merasa selalu benar,
atau takut mengakui bahwa kita pun bisa keliru.
Dalam pendidikan, dalam keluarga, dan dalam membimbing anak-anak,
kita sering menjadi suara yang ingin didengar,
namun lupa menjadi telinga yang mau mendengar.
Mungkin inilah alasan mengapa hubungan guru dan murid kadang terasa berjarak,
kerja sama orang tua dan anak menjadi rapuh,
dan anak-anak kehilangan arah.
Mereka berbicara, tetapi tidak benar-benar dipahami.
Kita hanya perlu menjadi pendengar yang memahami,
bukan pendengar yang sekadar menunggu giliran membalas.