Kebajikan sejati lahir dari batin yang telah disiapkan dengan baik. Bukan hanya soal tindakan lahiriah seperti berdana atau membantu sesama, tetapi penting juga kesiapan batin yang tenang, sadar, dan penuh welas asih “Cittaṃ dantaṃ sukhaṃ ahu” batin yang terlatih membawa kebahagiaan (Dhp 35),
Segala perbuatan bergantung pada kondisi batin. Dalam Anguttara Nikāya (AN I 6), Buddha menyatakan, “Cittena nīyati loke” (dengan batin, dunia digerakkan). Jika batin jernih dan terarah, tindakan pun menjadi bajik dan bermanfaat. Sebaliknya, batin yang kacau bisa merusak niat baik.
Sebelum berbuat kebajikan, umat Buddha diajak mengembangkan batin terlebih dahulu. Dalam Majjhima Nikāya Buddha berkata, “Cittaṃ bhāvetha kusalesu dhammesu” - kembangkan batin dalam hal-hal bajik (M. I. 117),Latihan seperti meditasi dan refleksi moral membantu menumbuhkan niat yang murni.
Kesiapan batin juga berarti memiliki konsentrasi. Dalam Sāmaññaphala Sutta disebutkan, “Cittassa ekaggatā kammaniya” konsentrasi batin menjadikan perbuatan siap (D. II.68). Dengan batin yang fokus, seseorang lebih mampu menjalankan kebajikan dengan benar dan bijaksana.
Akhirnya, batin yang siap akan memimpin tubuh dan ucapan ke arah kebajikan. “Cittañca susamāraddhaṃ, kāyena kusalaṃ bahuṃ” batin yang siap mendorong banyak kebajikan (A. II. 13) Maka dari itu, mari menyiapkan batin kita sebelum bertindak, agar hidup penuh makna dan kebajikan kita membawa manfaat sejati.