Jika hidup ini tinggal satu hari, bagaimana kita akan menjalaninya? Apakah kita akan tenggelam dalam penyesalan masa lalu atau tersesat dalam kekhawatiran tentang masa depan yang tidak akan datang? Ataukah kita akan memilih untuk menjalani setiap detik dengan penuh kesadaran, cinta, dan kebijaksanaan?

Suatu ketika, seorang pemuda datang kepada seorang bhikkhu tua dan berkata, “Bhante, aku takut menghadapi kematian. Aku merasa belum cukup melakukan hal baik, dan aku masih memiliki banyak keinginan yang belum terpenuhi.”

Sang Bhikkhu tersenyum lembut dan bertanya, “Seandainya kau tahu bahwa hidupmu hanya tinggal satu hari, apakah kau akan menggunakannya untuk mengumpulkan lebih banyak harta, membalas dendam, atau mengejar kesenangan duniawi?”

Pemuda itu terdiam, lalu menjawab lirih, “Tidak, Bhante. Aku akan menggunakan waktu itu untuk meminta maaf, menyebarkan kebaikan, dan bermeditasi.”

Sang Bhikkhu menepuk bahunya dan berkata, “Maka hiduplah seperti itu setiap hari, karena sejatinya, hidup memang tidak pasti.”

Perenungan akan Waktu yang Berlalu

Buddha
dalam Bhaddekaratta Sutta (MN 131) bersabda: 

"Atītaṃ nānvāgameyya, nappaṭikaṅkhe anāgataṃ; Yadatītaṃ pahīnaṃ taṃ, appattañca anāgataṃ."
(Jangan hidup dalam penyesalan masa lalu, jangan pula berharap-harap pada masa depan. Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang.)

Jika hidup hanya tinggal sehari, kita akan menyadari bahwa yang benar-benar kita miliki hanyalah saat ini, detik yang sedang bernafas, langkah yang sedang dijalani, dan kebaikan yang bisa kita tebarkan.

Sering kali kita hidup seakan waktu tidak terbatas, menunda kebaikan, menyimpan dendam, dan membiarkan kemarahan menguasai hati. Tetapi jika kita tahu bahwa esok tak lagi ada, mungkin kita akan memilih untuk mengampuni lebih cepat, mencintai lebih dalam, dan berbicara lebih lembut.

Buddha
dalam Dhammapada (ayat 47) mengingatkan kita

"Pupphāni heva pacinantaṃ, byāsattamanasaṃ naraṃ; Atitānī ca yo phuṭṭho, saṃparāye ca vedhati."
(Seorang yang sibuk memetik bunga kesenangan dunia, tanpa menyadari kefanaannya, akan dihempas oleh kematian, seperti banjir menghanyutkan desa yang tertidur.)

Perenungan akan Waktu yang Berlalu

Jika
hidup tinggal satu hari, alangkah baiknya kita menggunakannya untuk menyucikan
pikiran dan perbuatan. Seperti dalam Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10), Buddha
mengajarkan bahwa kesadaran penuh (sati) adalah satu-satunya jalan
menuju pemurnian.

"Atītaṃ nānvāgameyya, nappaṭikaṅkhe anāgataṃ; Yadatītaṃ pahīnaṃ taṃ, appattañca anāgataṃ.""Ekāyano ayaṃ, bhikkhave, maggo sattānaṃ visuddhiyā. Cattāro satipaṭṭhānā."
(Inilah satu-satunya jalan menuju pemurnian makhluk... yaitu empat landasan perhatian penuh (satipaṭṭhāna))

Daripada
menghabiskan hari-hari dalam kesia-siaan, kita bisa merenung, bermeditasi, dan
menenangkan batin. Kita bisa memilih untuk tidak membuang waktu dalam kemarahan
atau kesedihan, tetapi justru menggunakannya untuk membangkitkan cinta kasih,
kedamaian, dan penerimaan.

Buddha dalam Sappurisa Sutta (AN 4.73) berkata:

"Yaṃ ve sevati taṃ hoti, yaṃ ve sevati taṃ phalaṃ; Maittametaṃ purekkhāraṃ, sevetha sappurise sadā."
(Apa yang sering dijalani, itulah yang akan terbentuk. Apa yang sering ditanam, itulah yang akan berbuah. Jadikan cinta kasih sebagai pedoman, dan dekatilah orang-orang bijak)

Jika
hidup tinggal satu hari, kita mungkin akan:

Namun, sejatinya, setiap hari bisa menjadi hari terakhir kita. Sebab itu, mengapa tidak menjalani hidup dengan penuh makna sejak sekarang?


  • Mengucapkan kata-kata baik yang belum sempat diucapkan.
  • Memaafkan orang yang telah menyakiti kita tanpa menunggu permintaan maaf.
  • Memeluk keluarga dan sahabat dengan kasih yang lebih dalam.
  • Bersikap lebih sabar dan memahami kelemahan orang lain.
Duduk dalam hening, bermeditasi, dan bersyukur atas setiap napas.

Buddha mengajarkan dalam Dhammapada (ayat 21):

"Atītaṃ nānvāgameyya, nappaṭikaṅkhe anāgataṃ; Yadatītaṃ pahīnaṃ taṃ, appattañca anāgataṃ.""Ekāyano ayaṃ, bhikkhave, maggo sattānaṃ visuddhiyā. Cattāro satipaṭṭhānā."
(Kesadaran adalah jalan menuju kehidupan abadi, kelalaian adalah jalan menuju kematian; mereka yang sadar tidak akan mati, tetapi mereka yang lalai sudah seperti orang mati)

Perenungan akan Waktu yang Berlalu

Jika kita tahu bahwa hidup hanya tersisa satu hari, kita akan memilih untuk hidup dengan lebih sadar dan bermakna. Namun, kenyataannya, hidup memang tidak pasti. Setiap hari adalah kesempatan untuk membangun kebajikan, membersihkan hati, dan menanam benih cinta kasih.


Seperti yang Buddha sabdakan dalam SN 23.2

Perenungan akan Waktu yang Berlalu

Jika
hidup tinggal satu hari, alangkah baiknya kita menggunakannya untuk menyucikan
pikiran dan perbuatan. Seperti dalam Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10), Buddha
mengajarkan bahwa kesadaran penuh (sati) adalah satu-satunya jalan
menuju pemurnian.

"Atītaṃ nānvāgameyya, nappaṭikaṅkhe anāgataṃ; Yadatītaṃ pahīnaṃ taṃ, appattañca anāgataṃ.""Ekāyano ayaṃ, bhikkhave, maggo sattānaṃ visuddhiyā. Cattāro satipaṭṭhānā."
(Inilah satu-satunya jalan menuju pemurnian makhluk... yaitu empat landasan perhatian penuh (satipaṭṭhāna))

Perenungan akan Waktu yang Berlalu

Jika
hidup tinggal satu hari, alangkah baiknya kita menggunakannya untuk menyucikan
pikiran dan perbuatan. Seperti dalam Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10), Buddha
mengajarkan bahwa kesadaran penuh (sati) adalah satu-satunya jalan
menuju pemurnian.

"Atītaṃ nānvāgameyya, nappaṭikaṅkhe anāgataṃ; Yadatītaṃ pahīnaṃ taṃ, appattañca anāgataṃ.""Ekāyano ayaṃ, bhikkhave, maggo sattānaṃ visuddhiyā. Cattāro satipaṭṭhānā."
(Inilah satu-satunya jalan menuju pemurnian makhluk... yaitu empat landasan perhatian penuh (satipaṭṭhāna))

Maka,
sebelum matahari terbenam hari ini, marilah kita hidup dengan penuh cinta,
penuh kebajikan, dan penuh kesadaran. Sebab sejatinya,
setiap hari adalah kesempatan
terakhir untuk menjadikan hidup ini bermakna.

Bhikkhu Bhadranatha, Thera

Tangerang 9 Maret 2025

Scroll to Top