Pagi ini, langkahku mengayun di antara gemuruh kota yang tak pernah lelah. Asap kendaraan berpilin di udara, bercampur dengan desir angin yang menyusup di sela-sela gedung pencakar langit, seolah menjadi saksi bisu bagi ribuan perjalanan yang bergegas tanpa henti. Bangunan-bangunan megah itu berdiri tegak, menjulang seperti raksasa batu yang diam, mengawasi hiruk-pikuk manusia yang berpacu dengan waktu.

Picture1

Hari ini, 6 Maret 2025. Aku, seorang bhikkhu dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk peradaban modern, kini melangkah di tengah arus kehidupan yang begitu berbeda. Dulu, di kampung halaman, pagi selalu disambut dengan angin yang berembus perlahan, membelai dedaunan yang menari di bawah cahaya matahari. Suara burung berkicau riang, mengiringi langkah-langkah ringan di jalan setapak yang masih basah oleh embun.

Di sini, di jantung kota yang tak pernah tidur, pagi justru dipenuhi oleh suara klakson yang bersahut-sahutan, berpacu dengan derap langkah manusia yang bergegas menjemput rutinitasnya. Waktu seolah tak memberi kesempatan untuk sekadar berhenti dan menarik napas. Semuanya terasa begitu cepat, begitu sibuk, seperti arus sungai deras yang menyeret siapa pun yang mencoba melawan.

Meski demikian, aku tahu, Dharma tetap harus dijalankan. Kewajiban seorang bhikkhu untuk membina dan membimbing tak boleh terhenti. Di tengah hiruk-pikuk ini, kami membawa ketenangan yang tak terlihat, sebuah lentera kecil yang tetap menyala di tengah badai peradaban. Karena di mana pun kaki melangkah, kebijaksanaan dan welas asih harus tetap Menyala bagaikan cahaya lilin yang tak berhenti  menerangi kegelapan.

Kami tinggal di salah satu vihara, sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan, tetapi rumah bagi jiwa yang mencari ketenangan. Di sinilah aku bersama komunitas Sangha menjalani kehidupan dalam kebersamaan, berbagi dalam kesederhanaan, dan menjaga nyala Dharma agar tetap hidup di tengah derasnya arus modernitas.

Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, kami telah terjaga. Dalam keheningan yang masih pekat, suara paritta mengalun lembut, menggetarkan udara pagi yang dingin. doa-doa kami mengalir, membasahi hati yang dahaga akan ketenangan. Setelah itu, kami melangkah menjalankan tugas pembinaan, membawa ajaran Buddha ke setiap penjuru, seperti mata air yang tak kenal lelah menghidupi tanah yang kering.

Hari ini, Kami kembali melangkah ke jalanan kota. Di antara gedung-gedung yang menjulang seperti raksasa beton, menapaki trotoar yang penuh sesak, menemui umat yang haus akan ajaran. Wajah yang kutemui mencerminkan berbagai cerita, ada yang mencari jawaban, ada yang mendamba ketenangan, dan ada pula yang hanya ingin mendengar satu kata yang menenangkan jiwa.

Meskipun awalnya aku sempat merasa asing di tempat yang serba baru ini, kehadiran sosok inspiratif menjadi lentera yang menerangi jalanku. Dia bukan sekadar berbicara tentang Dharma, tetapi menjalankannya dengan begitu alami,Sikapnya humble, tutur katanya lembut, dan dalam setiap bimbingannya terselip keteduhan yang menenangkan, Bersamanya, kami para junior merasa lebih tenang, lebih percaya diri dalam melangkah, dan lebih memahami bahwa Dharma bukan sekadar teori, tetapi kehidupan itu sendiri.

Picture2

Dalam perjalanan kami bertemu umat Buddha, melihat wajah yang membawa kisahnya sendiri. Ada yang tersenyum tulus, Ada yang berlari dalam bayang ambisi, sibuk mengejar duniawi seolah waktu tak pernah cukup. Ada pula yang datang dengan sorot mata letih, mencari ketenangan di tengah gelombang kehidupan yang tak henti menerpa.

Di balik gemerlap lampu kota yang penuh dengan kemewahan yang berkilau, tersembunyi ruang kosong dalam hati banyak orang. Senyum mereka terkadang hanya tirai tipis yang menutupi kegelisahan. Mereka datang ke vihara tidak hanya membawa dupa dan bunga, tetapi juga membawa pertanyaan yang tak terjawab, membawa resah yang menggelayuti Pikiran.

Dan di situlah kami, para bhikkhu, hadir bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi sebagai pendengar. Seperti sungai yang menerima setiap tetes air tanpa membeda-bedakan asalnya, kami membuka hati untuk memahami. Kami tidak membawa tongkat keajaiban yang bisa menghapus penderitaan, tetapi kami menawarkan ruang untuk merenung, untuk menemukan kembali cahaya dalam diri melalui ajaran Buddha.

Pembinaan ini bukan sekadar tentang kata-kata yang diucapkan, akan tetapi tentang bagaimana kami menjalani hidup dengan kesederhanaan. langkah sederhana pun bisa membawa makna besar, kebaikan tidak selalu muncul dalam bentuk yang megah, terkadang, ia hadir dalam keheningan, dalam senyum yang menguatkan, dalam telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi.

Kami belajar bahwa ibu kota mungkin penuh tantangan, tapi ia juga adalah ladang yang subur untuk menanam kebajikan. Seperti bunga teratai yang tumbuh di atas lumpur, kebijaksanaan bisa muncul di tengah keramaian. Di antara hiruk-pikuk kendaraan dan gedung-gedung yang menjulang, ada hati yang masih mencari arah, ada jiwa yang haus akan kedamaian. Dan selama masih ada yang mencari cahaya, tugas kami adalah memastikan lentera Dharma tetap menyala.

Malam ini, kami kembali ke vihara. Di bawah langit yang tenang, kami duduk di halaman vihara, berbincang tentang berbagai hal, tentang perjalanan yang telah dilalui, dan tentang harapan yang akan datang. Suasana terasa begitu sederhana, namun penuh makna. Secangkir teh hangat menemani kami, menghangatkan tangan dan jiwa di malam yang sunyi.

Di antara kami, duduk Bhante Bhadra Natha, seorang senior dalam komunitas Sangha yang penuh kebijaksanaan. Nama beliau begitu elegan, penuh arti. "Natha," dalam bahasa Sanskerta atau Pali, berarti pelindung, penolong, pengayom nama yang sederhana, tetapi sarat dengan makna mendalam.

Dalam perbincangan yang mengalir tanpa batas, sesekali aku terdiam, menarik napas dalam-dalam, membiarkan pikiranku mengembara ke masa lalu. Mengingat kembali perjalanan yang telah dilewati hari-hari yang penuh warna, tantangan, dan pelajaran. Dalam setiap langkah, selalu ada rasa lelah, amarah, dan ketidaksempurnaan.  itulah kehidupan, sebuah proses yang terus berjalan. Tidak ada yang stagnan, tidak ada yang sia-sia. Setiap momen, baik maupun buruk, membentuk siapa kita hari ini.

Malam terus beranjak, namun kehangatan kebersamaan tetap tinggal. Vihara yang sunyi seolah menjadi saksi percakapan kami, menyimpan cerita yang akan terus mengalir dalam Jejak Inspirasi

Penulis Bhadra Purisa

Tanggerang, 07 Maret 2025

Scroll to Top