Doa yang dibuka dengan pujian kepada Sanghyang Adi Buddha, Sang Bhagava, dan para Bodhisattva itu menyerukan berkah bagi seluruh makhluk di Indonesia. "Dengan kekuatan Buddha, Dhamma, dan Sangha, semoga kebahagiaan senantiasa tercipta di tanah air Indonesia," ucap Bhadranatha, diikuti permohonan spesifik untuk transformasi POLRI:
"Semoga para anggota kepolisian dilimpahi kesehatan, kekuatan batin, dan kebijaksanaan. Jalankan tugas dengan penuh welas asih, jaga ketertiban demi kebaikan semua umat manusia dan makhluk."
FOKS DOA BUDDHA:
Komitmen Netralitas
"Lindungi yang lemah tanpa pilih kasih, tegakkan kebenaran, dan jaga keharmonisan masyarakat."Perisai dari Tiga Racun
Mohon perlindungan POLRI dari marabahaya "keserakahan, kebencian, dan delusi", digantikan dengan "cinta kasih dan kebijaksanaan".Dukungan untuk Pemimpin Bangsa
Doakan pemimpin memiliki "kemurahan hati dan kebijaksanaan" wujudkan Indonesia yang "maju, makmur, adil, dan beradab".Cita-Cita Nasional
Tegaskan harapan agar bangsa tetap damai dengan berpegang pada "Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika".
Doa ditutup dengan paritta perlindungan dalam bahasa Pali:
"Bhavatu sabbamaṅgalaṃ... Sabbe sattā bhavantu sukhitattā (Semua makhluk berbahagia)."
Diakhiri tiga kali seruan "Sadhu" sebagai peneguh restu.
KONTEK SPIRITUAL:
Bhadranatha menekankan bahwa doa ini adalah pondasi etis bagi POLRI:
"Niat luhur dalam bertugas harus selaras dengan welas asih universal. POLRI tak hanya menjaga manusia, tapi juga harmoni semesta."
Acara yang mengusung tema "POLRI untuk Masyarakat" ini menjadi momen reflektif bagi jajaran kepolisian sebelum puncak HUT Bhayangkara ke-79 pada 1 Juli 2025.