1

Bhadrapurisa Thera, Bhadranatha Thera

A. Pendahuluan

Pada kehidupan masa sekarang tidak mudah untuk bergaul dengan orang bijak, karena orang bijak tidak mudah untuk dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mendapatkan intan permata seseorang hanya bisa menumpuk harta benda secara duniawi yang bersifat tidak kekal Hampir setiap manusia bekerja keras hanya untuk mendapatkan harta demi memuaskan diri dalam kehidupan yang duniawi (Wijaya-Mukti, 2003). Bertemu dangan para ariya adalah baik, tinggal bersama mereka merupakan suatu kebahagiaan, orang akan selalu bahagia bila tidak menjumpai dengan orang yang bodoh (Dh.206), setelah memperhatikan seksama, orang bijaksana memuji ia yang menempuh kehidupan nyata tanpa cela, pandai serta memiliki kebijaksanaan dan sila (Dh.229).

Manusia harus berusaha menghilangkan kebiasaan bermalas-malasan, tidak gelisah dan mampu mengatasi bahwa segalanya tanpa inti sehingga terbebas dari keserakahan, nafsu birahi, kemarahan, kebodohan (Sn.9-13). Hendaknya orang menghentikan kemarahan dan kesombongan, hendaknya ia mengatasi semua belenggu, orang yang tidak lagi terikat pada batin dan jasmani, yang telah bebas dari nafsu-nafsu tidak mudah menderita (Dh.221). Seperti sabda dari Buddha Gautama “Manusia yang penuh semangat, selalu sadar, murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dhamma dan selalu waspada maka kebahagian akan bertambah (Dh.14). Bertutur yang baik, memiliki perbuatan yang baik, sopan dalam pergaulan, dan menyenangkan tutur katanya. Inilah perbuatan yang tertinggi yang menjamin keberhasilan untuk menjadi orang bijak (Khp.V.24).

Manusia yang baik dan manusia yang berahklak mulia bisa menerima suasana apapun, tidak melekat dengan sesuatu hal, bermoral yang baik, mempunyai perbuatan yang baik yang berlandaskan sila kebenaran, terhindar dari fitnah, kebencian, omong kosong, selalu berkata benar, dan mempunyai tutur kata yang sopan adalah merupakan konsep sebagai orang bijak. Tidak bergaul dengan orang dungu berarti mampu menghormati orang lain dengan bijaksana mereka memilih jalan yang benar, mereka berjalan dengan pengetahuan akan manfaat-manfaat yang ada dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang. (Khp.II.101-102).

Bersemangat dan bijaksana berarti tekun dalam semangat serta bertindak dengan penuh kesabaran disertai kebijaksanaan dan setelah kokoh dalam sila mengembangkan ketenangan dan pandangan terang sebagai konsentrasi dan bijaksana (Vism.4). Orang yang penuh semangat, selalu sadar, murni dalam perbuatan memiliki pengendalian diri, hidup sesuai Dhamma, selalu waspada maka kebahagian akan bertambah (Dh.24). Buddha juga memberi nasehat bahwa hidup di tempat yang sesuai berkat jasa-jasa penghidupan yang lampau, melakukan perbuatan yang bermanfaat itulah berkah utama yang termulia (Khp.V.24). Seperti halnya dikatakan Buddha Gautama “barang siapa sempurna dalam sila dan mempunyai pandangan terang, teguh dalam dhamma, selalu berbicara benar, dan memenuhi segala kewajibanya maka semua orang akan mencintainya (A.II.107).

Agama Buddha mengajarkan bahwa semua kehidupan memiliki sifat-sifat bajik. Moral, etika dan agama adalah kendali-kendali yang diterapkan untuk memenangkan dari sifat keserakahan dari sifat manusia yang rumit. Ada tiga karakteristik orang bijak yakni : Succintitacinti yaitu lazim berfikir dalam hal-hal yang bajik, subbasitabhasi yakni lazim berucap dalam hal-hal yang bajik, Suttakamakari yakni lazim bertindak dalam hal-hal yang baik, ketiga hal tersebut diklasifikasikan kedalam tiga golongan yakni pikiran orang baik sebagai sifat orang bijak (Pandita-lakkhana), ucapan baik sebagai markah orang bijak (pandita nimitta), dan tindakan baik sebagai tanda orang bijak (Pandita padana) (M.III.61)

B. Pengertian Bergaul Dengan Orang Bijak

Pengertian bergaul menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sebagai berikut; (1) hidup berteman (bersahabat) dengan orang lain, (2) hidup bermasyarakat, dan menurut data internet bargaul adalah (1) hidup berinteraksi dengan orang lain, (2) melepaskan kepenatan dalam segala aktivitas, dan pengertian bijak menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah (1) selalu menggunakan akal pikiran, pandai, mahir bukan beta, berperi, engkau memang, (2) maka pandai bercakap-cakap, petah lidah (Sudaryanto, 2020).

Bergaul dengan yang bijaksana adalah sering mengunjungi, bersahabat dengan yang baik, dan berjalan dengan jalan yang sempurna, mereka berjalan dengan pengetahuan akan manfaat-manfaat di sini dan sekarang maupun kehidupan yang akan datang (Khp.II.102). Bergaul dengan yang bijaksana adalah dengan cara melaksanakan sepuluh jenis tindakan yang bermanfaat yakni; ingatanya tajam, kebijaksananya cemerlang, pengetahuanya luas, tekun, kesilaanya terjaga sempurna, mempunyai perilaku yang baik, terjauhkan dari kekotoran batin, kearifanya luhur, teguh dalam kebajikan, tindakan, ucapan dan pikiranya baik (Khp.II.110). Memiliki perilaku dan pergaulan yang pantas, terdapat perilaku yang pantas dan perilaku yang baik dalam kehudupan sekarang. Tiada pelanggaran dalam jasmani, tidak ada pelanggaran melalui ucapan, tidak ada pelanggaran melalui jasmani dan ucapan, serta dapat melalui pengendalian melalui sila, inilah perilaku yang pantas untuk bergaul (Vism.44).

Bergaul dengan yang bijaksana mampu menjadi sebagai pendukung, mampu menjadi sebagai penjaga, dan sebagai tempat berteduh, seorang bajik mampu menunjukan sepuluh contoh perkataan, yang didengar, seorang mendengar apa yang belum pernah didengar, melenyapkan keragu-raguan, meluruskan pandangan-pandangan yang keliru, dan mendapatkan keyakinan, atau melalui pengajaranya, seseorang berkembang dalam keyakinan, sila, pengetahuan, kemurahan hati, dan kebijaksanan, memiliki dasar pengembangan perhatian murni (Vism.49).

1. Sebab-Sebab Bergaul Dengan Orang Bijak

Bergaul dengan yang bijaksana adalah dengan cara melaksanakan sepuluh jenis tindakan yang bermanfaat, yang bermula dan tidak melakukan perbuatan membunuh makluk yang bernafas, mereka mampu melenyapkan segala rasa ketakutan, resiko dan bencana bagi makluk (Khp.II.110). Pikiran-pikiran yang jahat, pikiran yang kejam, dan pikiran yang serakah merupakan pikiran yang sangat kotor, yang sangat menghambat dalam kemajuan batin seseorang, tetapi pikiran yang mulia menunjukan pikiran-pikiran yang menahan diri untuk tidak dikuasai oleh watak kenafsuan, dan juga mengendalikan objek-objek kenafsuan hal demikian merupakan hal yang baik yang di dapat dari bergaul dengan orang bijak (D.III.275).

Orang yang berpikiran benar adalah orang yang dapat memahami dengan bijaksana tentang penderitaan, asal mula penderitaan, berhentinya penderitaan, dan cara menuju berhentinya penderitaan telah meninggalkan tiga belenggu didalam dirinya yaitu pandangan benar mengenai kepribadian, keraguan serta kemelekatan tarhadap aturan-aturan dan tata cara (M.1.10).

Apabila pikiran terserap di dalam kegembiraan, karena terpenuhinya keinginan indera atau karena telah melakukan suatu perbuatan baik, atau karena kegiuran yang timbul dari pandangan terang, itu di katakana berada dalam kebahagiaan batin (cetasika-sukha) (A.I.194). Kebahagiaan yang timbul karena terpenuhinya keinginan-keinginan indria yang berdasarkan pada hal-hal benda materi adalah merupakan kebahagiaan yang berhubungan dangan kemelekatan dan memiliki keburukan-keburukan tersembunyi seperti ratap tangis, kesedihan, bahaya-bahaya dan emosi

seseorang, hal tersebut merupakan sebab-sebab manusia bergaul dengan orang yang bijak (A.I.180).

2. Alasan Bergaul Dengan Orang Bijak

Alasan utama hidup saling membantu dan saling berdamping untuk memperoleh tujuan hidup yang baik dengan cara bergaul dengan orang bijak adalah karena kebijaksanaan atau pandangan benar yang dianut, yang diajarkan, atau disebarkan, hal mendasar dalam melakukan tindakan baik atau buruk, salah satunya adalah mempunyai pandangan benar. Dapat melaksanakan peraturan-peraturan atau kemoralan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan peraturan yang ada, kesucian pandangan terang mampu menentukan sifat-sifat dari timbul dan tenggelamnya kelompok kehidupan (nama dan rupa). Dengan memperoleh pandangan terang seseorang mampu mengetahui mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah (D.III.263). Mampu memperoleh keseimbangan dan keharmonisan hidup, berbahagia melihat orang lain bahagia, menghormat dan rendah hati terhadap orang lain, mendengarkan dan sanggup belajar dhamma, (A.V.23).

Tidak bergaul dengan orang-orang dungu dan bergaul dengan orang bijaksana disebutkan pertama oleh Sang Buddha ketika berbicara tentang pertanda yang baik hal tersebut bisa dinyatakan sebagai berikut karena bergaul dengan orang dungu maka para dewa dan manusia mengambil pandangan tentang pertanda-pertanda baik yang mengatakan bahwa yang dilihat adalah pertanda baik, dan ternyata hal tersebut bukanlah pertanda yang baik. Itulah sebabnya bahwa pergaulan yang baik adalah dengan para bijaksana (Khp.II.107). Bergaul dengan orang lain dalam kehidupan ini tidak dapat dihindari karena manusia adalah makluh sosial yang saling bergantungan sehingga cenderung hidup berkelompok, pergaulan tindakan dan batin dari teman akan mempengaruhi tindakan pada diri pribadi, seperti sabda Sang Buddha bahwa tidak bergaul dengan orang sesat adalah berkah utama (Sn.126).

Bergaul dengan orang bijak mempunyai sedikit keinginan maka akan cepat puas, dan akan menjauhkan dari diri dari masyarakat, dengan bersungguh hati dan tidak berumah, dan menjalankan peraturan, teguh dan terampil didalam latihan untuk menyingkirkan kekotoran batin, karena itulah manusia dapat dengan cepat menyelesaikan tugas yang dijalaninya (Miln.X.3). Ia yang mengenal dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran tenang. Orang bijaksana selalu gembira dalam ajaran yang dibabarkan oleh para Ariya (Dh.79).

Agar dapat melenyapkan keserakahan, kebencian, kebodohan, pandangan salah, sikap tidak tahu malu, ketenangan, dan pandangan terang harus dikembangkan sehingga memperoleh kebahagiaan sejati, karena kesadaranya telah sampai hanya sadar akan diri sejati yang menjadi pengawas kegiatan badan dan indra-indranya. Mengendalikan pikiran, ucapan dan perbuatan merupakan bentuk pelaksanan sila dan Samadhi untuk mencapai kebijaksanaan (panna), pencapaian kebijaksanaan menjadikan manusia memahami sifat sesungguhnya bahwa segala sesuatu selalu berubah (annica), penuh penderitaan (dukkha), dan tidak memiliki inti kekal (annata) sehingga tidak melekat terhadap segala sesuatu yang menimbulkan nafsu keinginan (Wahyono, 2002:73). Tiada api yang menyamai nafsu, tiada kejahatan yang menyamai kebencian, tiada penderitaan yang menyamai kelompok kehidupan (khanda), dan tiada kebahagiaan yang lebih tinggi dari kedamaian abadi (Dh.2002).

Ada dua macam kebaikan sabagai alasan untuk bergaul dengan orang bijak yaitu : (1) ukattha –kusala yang artinya kebaikan tingkat tinggi, yang mana bayak perbuatan baik misalnya memberikan dana, melaksanakan sila, melaksanakan meditasi dan lain-lainya, baik sebelum berbuat maupun sedang berbuat atau setelah berbuat, bila pikiran orang yang berbuat baik itu ada udang dibalik batu atau kejahatan yang bersekutu perbuatan yang demikian merupakan ukkattha-kusala atau kusala tingkat rendah, (2)

Omaka-kusala adalah berbagai macam perbuatan baik, misalnya memberikan dana, melaksanakan sila, melaksanakan meditasi dan lain-lainya, baik sebelum berbuat maupun sudah berbuat atau setelah berbuat. Bila pikiran orang yang berbuat baik itu ada udang dibalik batu atau kejahatan yang bersekutu, perbuatan yang demikian itu merupakan kusala tingkat rendah (D.III.273).

Seorang teman yang dikatakan mampu membantu di dalam berbagai situasi yaitu; (1) seorang teman yang mempunyai rasa simpatik baik di dalam suka maupun duka (2), seorang teman yang memperkenalkan pada hal-hal yang berguna (3), seorang teman yang memiliki perasaan persahabatan (4). Empat macam orang-orang ini adalah teman-teman sejati, dan seseorang seharusnya bergaul dengan mereka (D.III.187).

Sigalovada Sutta (D.III.187)

Seorang teman yang mampu memiliki perilaku yang pantas untuk suatu pergaulan yang baik yaitu tidak melakukan suatu pelanggaran melalui jasmani, ucapan, ucapan dan jasmani dapat mengendalikan semua sila yang ada, seseorang yang melakukan penghidupan dengan baik, tidak memberi hadiah-hadiah yang berlebihan, berbicara yang baik dan berdasarkan kenyataan yang ada tanpa adanya rekayasa sehingga orang lain akan menyukai (Vism.44).

Seseorang yang tidak bergaul dengan para pemabuk, para pelacur, para pencuri, yang tidak bergaul dengan teman penjilat, dan sering mengunjugi, menghormati keluarga yang mempunyai keyakinan dan yang dipercaya, sesuatu yang menyenangkan batin yang baik, dimana para bijaksana berkunjung selalu menebarkan kebaikan, mengharapkan suatu kebahagiaan, berharap menghilangkan seuatu perbudakan, saling melengkapi dalam kehidupan dengan hal yang baik (Vism.45).

Pada saat melihat suatu objek penglihatan dengan mata dapat mengendalikan diri, melihat suatu objek dengan hidung melalui suatu penciuman, dapat merasakan sentuhan kulit, melihat suatu objek dengan pikiran, maka semua hal tersebut dapat dikendalikan tanpa adanya suatu keistimewaan yang sangat melekat ini adallah sila dari pengendalian indera-indera, penghindaran terhadap penghidupan yang salah, sebagai pencegahan terjadinya pelanggaran terhadap aturan-aturan yang berkenaan dengan penghidupan serta pencegahan terhadap timbulnya kondisi-kondisi kejahatan yang dimulai dengan rencana licik, pembicaraan menyindir, meremehkan, mengejar keuntungan dengan keuntungan ini adalah sila dari kesucian suatu penghidupan (Vism.42)

Dalam pengembangan kepribadian yang lebih luhur, setiap anggota keluarga hendaknya juga dilengkapi dengan kemoralan (sila) dalam kehidupannya untuk dapat menjaga ketertiban serta keharmonisan dalam masyarakat. Tingkah laku bermoral adalah salah satu tonggak penyangga kebahagiaan keluarga yang selalu diajarkan oleh Sang Buddha, bahkan secara khusus sang Buddha menyebutkan lima dasar kelakuan moral yang dijadikan sebagai faktor seseorang bergaul dengan orang bijak. Kelima tingkah laku yang dihindari dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut : menghindari pembunuhan/ penganiayaan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, melakukan kebohongan, dan mabuk-mabukan (A.III.203). Menimbulkan kebencian, kemarahan, keirihatian, kekejaman, kecemburuan, ketidak sukaan, melakukan tindak pemfitnahan, tidak tahu mana yang benar dan tidak tahu mana yang salah, yang mana berguna dan tidak berguna, tidak dapat melihat hidup den kehidupan sewajarnya atau tidak tahu hakekat hidup dan kehidupan ini. Menimbulkan keinginan atau nafsu indria yaitu merupakan bentuk-bentuk yang dapat dilihat, suara, bau, rasa, sentuhan-sentuhan yang menyenangkan dan merangsang (A.III.446).

Ajaran Buddha merupakan anjuran bagi manusia untuk berusaha menjadi orang atau kelompok bijaksana yang membantu orang lain mengkondisikan diri agar selalu melakukan perbuatan baik. Selain penyesalan, cara efektif untuk mencegah melakukan perbuatan jahat adalah dengan menerapkan Hiri dan Ottapa dalam kehidupan sehari-hari, Hiri adalah rasa malu berbuat jahat, sedangkan Ottapa adalah rasa takut akan buah akibat dari perbuatan jahat. Orang yang telah melakukan kejahatan akan diliputi oleh rasa takut akan akibat dari perbuatan jahatnya. Rasa takut sesungguhnya adalah bagian dari pengalaman dan pengetahuan akan konsekuensi (akibat) dari perbuatan jahat. (A.ii.1)

Lokapāla Sutta, Aṅguttara Nikāya (A.ii.1)

Rasa takut akan akibat perbuatan jahat dapat menjadi perisai diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan jahat. Ketika seseorang sudah memiliki rasa takut akan akibat perbuatan jahat, akan berpikir berulang kali sebelum melakukan kejahatan. Ketika seseorang memiliki rasa malu melakukan kejahatan, akan segera mengendalikan diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan jahat tersebut. Sebaliknya, jika sudah tidak memiliki rasa malu berbuat jahat dan tidak memiliki rasa takut akan buah akibat dari perbuatan jahat, maka manusia akan memiliki persoalan yang besar, selangkah lebih maju,

C. Sifat Orang Bijak

Secara garis besarnya ada tiga perbuatan baik melalui pikiran yang merupakan sifat orang bijak, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Ketidakdunguan (Amoha)

Kecenderungan ketakdunguan dalam wujud kearifan yang terbebas dari ketidak tahuan dan pandangan sesat sehingga dapat membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, kebajikan, dan kejahatan serta kebodohan batin (moha), Tidak serakah atau alobha, tidak benci atau adosa dan kebijaksanaan atau amoha adalah akar dari hal-hal yang bermanfaat atau kusala (M.I.47), pikiran benar berarti memiliki kejujuran, rendah hati, lemah lembut, tidak sombong, hidup sederhana, tenang ideranya, tahu malu, tidak melekat pada keluarga, selalu berfikir sehingga semua makluh hidup berbahagia dan tentram (Sn.143-145).

Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan dengan mempergunakan dan mengarahkanya dengan pikiran pada pengetahuan yang benar untuk membaca pikiran orang lain dengan benar untuk memperoleh suatu kebenaran (D.I.91). Penyebab timbulnya suatu kedunguan, ketidaktahuan, kebodohan, tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang salah maka disebut dengan sifat kemohaan (A.III.446).

Orang yang berpikiran benar adalah orang yang dapat memahami dengan bijaksana tentang penderitaan, asal mula penderitaan,berhentinya penderitan telah meninggalkan tiga belenggu didalam dirinya yaitu pandangan mengenai kepribadian, keragu-raguan serta kemelekatan terhadap aturan-aturan dan tata cara (M.I.10).

Pikiran yang tenang tidak tergoyahkan menemukan bentuknya, menimbulkan kedamaian penuh konsentrasi, damai dan tenang maka tercapailah kebijaksanaan, dengan semua menghapus semua bentuk pikiran di dalam jiwa maka tiada lagi apapun yang tersisa (Ud.IV.3). Kebajikan serta pemusatan pemikiran merupakan suatu hal yang nyata adalah kebijaksanaan yang digunakan untuk memproleh suatu faedah dan mendapatkan suatu pahala yakni terbebas dari noda-noda hawa nafsu, kelobhaan dan kedunguan

Di dalam Sammaditthi Sutta menjelaskan bahwa Kebijaksanaan yang dicapai manusia memiliki dua unsur yaitu (1) pikiran benar (samma-sankappa) adalah pikiran bebas dari hawa nafsu (raga), kemauan buruk (byapada), kekejaman (vihimsa) yang diwujudkan dalam cinta kasih terhadap semua mahluk, “ pikiranku teguh bagaikan batu karang, tidak terikat pada hal-hal yang menimbulkan nafsu, tidak tergoncangkan di tengah- tengah dunia yang semuanya tergoncang, pikiranku telah kukembangkan dengan baik, jadi penderitaan tidak dapat menghampiriku (2) pandangan benar (samma ditthi) adalah pengertian terhadap segala sesuatu dan peristiwa menurut hakekat sebenarnya dengan penembusan ke dalam empat kesunyataan mulia sehingga mampu melihat kebenaran yang hakiki melalui pandangan benar dapat melihat dan kehidupan sewajarnya”.

Kebijaksaan yang dicapai tidak hanya melaksanakan sebagian dari jalan tengah. Buddha bersabda bahwa jalan utama beruas delapan dibagi menjadi tiga kelompok sila, samadhi dan panna, ketiga kelompok tersebut meliputi tiga hal yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat di pisah-pisahkan (M.I.300-301). Kebijaksanaan yang dimiliki manusia tidak muncul dengan sendirinya tetapi kebijaksanaan muncul dengan berbagai latihan yang ada untuk mewujudkan kemajuan dalam latihan-latihan meditasi untuk memperoleh kebijaksanaan.

Suatu watak ketidaktahuan ditandai oleh kurangnya kekuatan kecerdasan, maka harus di imbangi dengan berbagai macam perbuatan kebaikan, dan bertanya pada orang –orang mulia yang mengetahui lebih baik. Kecerdasan adalah tidak selalu merupakan keuntungan kelebihan darinya dapat menjadi suatu kerugian, apabila tanpa sikap batin yang pantas atau tidak berdasarkan pengetahuan yang benar, dapat menyeret seseorang kedalam jurang pandangan-pandangan keliru

yang ekstrim (D.III.415). Sebagai contohnya adalah mereka yang berwatak kenafsuan adalah sensitif dengan nilai-nilai keindahan dan keharmonisan, mudah sekali terpengaruh oleh kecantikan seseorang, dan juga akan keindahan musik, literatur dan lain-lain yang merupakan suatu kesenangan indera, dalam hal praktek peninggalan yang telah maju harus di imbangi dengan meditasi yang mencerminkan hakekatnya yang sebenarnya dari unsur badan jasmani.(D.III.415).

2. Tidak serakah (Alobha)

Kecenderungan tidak lobha dalam wujud kepuasan sehingga tidak berhasrat untuk, mendapatkan sesuatu dari batas kewajaran, dalam melakukan tindakan maka orang bijak harus mentaati delapan ruas jalan kehidupan yaitu mempunyai pandangan yang benar tentang hidup secara universal, mempunyai pikiran yang bersih tidak berdasarkan keserakahan (Lobha), mengindari suatu tindak pencurian, dan perbuatan buruk lainya untuk mendapatkan suatu kewajaran (M.III.29). Penyebab timbulnya suatu keinginan untuk memiliki suatu benda yang berlebihan disebut sifat kelobhaan.

Mempunyai sedikit keinginan maka dia mudah puas, menjauhkan diri dari masyarakat dengan bersungguh hati dan tidak berumah yang mewah, dia menjalankan peraturan yang ada, teguh dan terampil di dalam latihan untuk menyingkirkan kekotoran batin, karena itulah dia dengan dapat dengan cepat menyelesaikan tugas yang dijalaninya (Miln.XIII), menjauhkan diri dari segala kemewahan duniawi yang ada, tanpa menumpuk suatu keinginan yang melewati batas dari suatu kewajaran, tanpa membuat penghalang dalam kemajuan batin, melaksanakan sesuatu yang ada yaitu mengembangkan keadaan yang terang untuk memperoleh suatu kebahagiaan tanpa melekat keadaan duniawi maka orang bijaksana hendaknya mampu meninggalkan rumah dan pergi menempuh kehidupan tanpa rumah, demikian hendaknya orang bijaksana meninggalkan keadaan gelap (kebodohan) dan mengembangkan keadaan terang (kebijaksanaan) hendaklah ia mencari kebahagiaan pada ketidak melekatan yang sukar didapat (Dh.87).

3. Ketidak bencian (Adhosa)

Kecenderungan ketidak bencian dalam wujud cinta kasih sejati yang terbebas dari kegusaran, kemarahan apalagi kedendaman kebencian (dosa), Hendaklah orang menghentikan kemarahan dan kesombongan, hendaklah ia mengatasi semua belenggu, orang yang tidak lagi terikat pada batin dan jasmani yang telah terbebas dari nafsu-nafsu tidak menderita, timbulnya suatu kebencian, kemarahan, keirihatian, kekejaman dan kecemburuan disebut sifat kedosaan. (Dh.221).

Menambah suatu kebajikan tidak dihinggapi kemarahan kebenaran akan melenyapkan kejahatan dengan melenyapkan nafsu, kebencian akan mencapai pembebasan dan kesenangan (Ud.VIII.5). Mengerut dari kejahatan, menjauhkan diri dari minuman keras, atau segala minuman yang memabukan,merupakan suatu pertanda yang baik yang merupakn sifat dari orang bijak (Khp.II.7). Orang bijak memiliki tujuh pemurnian dianatarnya adalah sebagai berikut; (1) pemurnian moralitas yang harus diutamakan dalam perilaku sehari-hari, (2) pemurnian pikiran untuk mencapai suatu pengetahuan yang baik, (3) pemurnian pandangan untuk memperoleh suatu pandangan yang benar, pemurnian untuk menanggulangi suatu keragu-raguan untuk memahami kondisi-kondisi suatu pemahaman suatu objektif mengenai kemunculan yang saling bergantungan, (4) pemurnian melalui pengetahuan merupakan tahap utama untuk memeproleh suatu jalan kebijaksanaan, (5) pemurnian melalui pengetahuan merupakan pengembangan kebijaksanaan terang dengan merenungkan ketidak kekalan suatu penderitaan dan

melalui pengetahuan orang bijaksana akan mampu melihat mana yang penting dan mana yang tidak penting (M.I.24).

Pikiran seseorang yang tidak dihasilkan dari suatu keserakahan dan tidak dihasilkan dari suatu kebencian serta yang tidak dihasilkan dari suatu kekejaman terhadap orang lain adalah suatu pikiran yang murni landasan dalam kehidupan, Sebaliknya apabila pikiran seseorang yang dilandasi dengan pikiran hawa nafsu suatu keserakahan, kebencian, serta kedendaman maka seseorang tersebut menumpuk karma yang buruk, sebagai contohnya seseorang memanjakan dirinya hanya dengan kecantikan, dan seseorang memanjakan dirinya dengan segala permusuhan dan kebencian yang menyebabkan suatu kedendaman dalam kehidupan (D.III. 275).

Mereka yang berwatak kebencian adalah mudah tersinggung oleh hasutan yang sangat kecil sekalipun, untuk menghindari hal ini adalah dengan cara meditasi dengan objek kesucian dengan cinta kasih dan kasih sayang yang universal yang berdasarkan pada kebenaran dari akibat-akibat kamma (vipaka) yang pasti dimiliki oleh setiap orang pada setiap saat pemikiran, pembicaraan dan perbuatan ( D.III.415).

Mengembangkan metta terhadap orang lain untuk mengikis suatu kebencian terhadap orang lain dengan cara melaksanakan meditasi dengan obyek cinta kasih dengan maksud membuat orang lain bahagiaseperti di dalam Kakacūpama Sutta “seandainya para perampok yang kejam menangkap kalian, memotong-motong tubuh kalian dengan gergaji bermata dua... bahkan saat itu pun, siapa pun yang membiarkan pikirannya dipenuhi oleh kebencian terhadap mereka, ia bukanlah pengikut ajaran-Ku” (M.I 128-136). Jika dibalas dengan suatu kemarahan terhadap orang yang marah maka orang tersebut adalah bersifat hina, tetapi sebaliknya apabila dibalas dengan cinta kasih serta tidak ada dendam maka orang tersebut mampu menjadi orang bijak. Orang yang telah mengembangkan cintanya untuk mencapai kebebasan mutlak (Nirvana) yang pikiranya terpusat pada margha-phala yang pikiranya tak terikat kepada materi orang yang demikian dapat dijuluki dengan seorang yang mencapai pantai sebrang (Dh.218).

Sutta (D. I. 63–64)

a. Musavada veramani

Artinya berpantang dari pendustaan berpantang dari pendustaan yang Mencakupi; penipuan, pembohongan, pengelabuan, pembualan, pemutar balikan/bersilat lidah,

kemunafikan, kemuslihatan, dan pelanggaran janji. Menghindari perkataan bohong dan menjauhkan darinya, dan mengatakan kebenaran, menjunjung kebenaran, pantas untuk dipercaya dalam perkataan dan selalu berkata benar adalah tindakan yang baik (M.III.29).

b. Pisunavaca

Artinya berpantang dari penghasutan berbicara untuk menyulut perpecahan, perpilahan, pertentangan, permusuhan, pertikaian yang mencerminkan ketakselarasan, dan pemfitnahan dengan bicara untuk merendahkan orang lain, merugikan, dan menghancurkan orang lain. Ucapan yang memiliki empat ciri adalah; ucapan yang dikatakan secara bermanfaat, berharga, menyenangkan, selalu benar, dan kata-kata yang tidak menyakitkan (Sn.450). Ucapan benar (samma vacca) mencerminkan tekad untuk menahan diri dari berbohong (musavada), memfitnah (pisunavaca) yang menimbulkan kebencian, permusuhan, perpecahan, dan ketidak rukunan, ucapan kasar, pedas, tidak sopan, dan caci maki (pharusava) (A.III.112)

Ucapan dapat digolongkan sebagai ucapan benar harus memenuhi empat syarat: (1) ucapan itu banar, (2) ucapan itu beralasan, (3) ucapan itu berfaedah dan (4) ucapan itu di ucapkan pada waktu yang tepat.. Ucapan salah dapat menyinggung perasaan orang lain dalam mengucapkan hendaknya “ucapan kata-kata yang ramah, kata-kata yang menggembirakan dan menyenangkan, bukan kata-kata yang mengandung itikat buruk kepada siapapun, selalulah berbicara yang ramah pada orang lain” (Sn.452).

c. Pharusavaca Veramani

Artinya berpantang dari pembicaraan kasar dalam ujud umpatan, makian, celaan, bentakan, hardikan, perlakuan tidak ramah, ia menghindari kata-kata kasar dan menjauhkan diri darinya, mengatakan kata-kata yang lembut, menyejukan telinga, yang penuh cinta kasih, dan yang menmbus kehati, snatun, bersahabat, dan selaras bagi banyak orang (M.III.9). Perkataan kasar yang dilontarkan dalam keadaan marah berupa caci maki, dan mencerca orang lain dengan kata-kata yang pahit, hinaan terhadap orang lain, merendahkan martabat orang lain, kata-kata yang berupa sindiran mengakibatkan lenyapnya hubungan persaudaraan. Orang bijak menghindari dari parkataan yang kasar dengan cara melatih suatu kesabaran, berusaha bertenggang rasa, mempunyai rasa simpati, menghormati perbedaan pendapat, dan menahan perlakuan kasar dari orang lain tanpa harus membalasnya.

d. Sammphappalapa veramani

Artinya berpantang dari obrolan yang kosong yang tidak berguna, tidak beralasan, dan tidak berguna. Ia menghindari obrolan kosong dan menjauhkan diri darinya, berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, mengatakan apa yang berguna, membahas dhamma dan vinaya sesuai dengan kenyataan, perkataan laksana harta karun yang diucapkan pada saat yang tepat dan lembut serta penuh pertimbangan (M.III.29).

Pelaksanaan sila dengan baik merupakan pengendalian tata tertib yang tujuanya untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang buruk dengan cara mencari usaha dengan mata pencaharian benar (samma ajiva) adalah menghindarkan diri dari memperoleh mata pencaharian yang menyebabkan kerugian bagi orang lain. Seseorang yang berbudi dan bijaksana bersinar bagaikan kobaran api. Bagaikan seekor lebah mngumpulkan madu, ia memperoleh kekayaan dengan tidak merugikan siapapun (D.III.187).

E. Tanda Orang Bijak

Secara garis besarnya ada tiga perbuatan baik melalui tindakan yang merupakan tanda orang bijak, yang dapat dijabarkan sebagi berikut :

1. Panatipata Veramani

Artinya berpantang dari pembunuhan makluk hidup termasuk binatang yang mencakup delik pembantaian, penyiksaan, penganiayaan (M.III.29). Menjauhkan diri dari pembunuhan terhadap mahluk hidup merupakn tindakan sila yang benar yang harus dimiliki oleh orang bijak, semua mahluk hidup mencintai kehidupan dan takut pada kematian, bahwa semua mahluk hidup berusaha memperoleh kebahagiaan dan tidak menyukai derita, usaha menjauhkan diri dari pembunuhan dapat berlaku terhadap dua jenis perbuatan yaitu perbuatan menghancurkan hidup yang benar-benar terjadi, dan perbuatan yang sengaja melukai atau menganiaya mahluk lain tanpa membunuh mahluk tersebut

Sang Buddha menempatkan dua berkah yang berhubungan tentang menjauhi perbuatan jahat sebagai bagian dari berkah utama karena manusia sangat mudah terseret ke dalam perbuatan jahat. Tidak melakukan kejahatan, melatih pikiran agar disiplin sangat penting. Perbuatan jahat dapat digambarkan sebagai bentuk sikap/perilaku yang menimbulkan bencana pada diri sendiri maupun orang. Manusia mampu menjauhi lima kejahatan utama yaitu membunuh, mencuri, berbuat asusila, berbohong, dan minum minuman keras. Setiap perbuatan tersebut bila dilakukan memberi dampak merugikan bagi diri sendiri dan masyarakat. Bila perbuatan pembunuhan dilakukan mengakibatkan ketidaktentraman lingkungan masyarakat.. Membunuh binatang juga membawa bencana sosial karena di dalam mata rantai kehidupan, setiap binatang memiliki tempatnya masing-masing (M.II.4).

2. Adinnadana Veramani

Artinya berpantang dari pencurian dengan segala bentuknya seperti perampokan, penjambretan, pencopetan, penggelapan uang, penyuapan, dan pemerasan, ia ingin menghindarkan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan dan menjauhkan diri darinya, barang dan harta yang dimilikinya tidak diambil dari niat mencuru (Dh.30).

Ada empat perbuatan jahat yang harus dihindari diantaranya adalah sebagai berikut; (1) mencuri. Jika seseorang melakukan perampokan, stabilitas lingkungan akan terganggu, keamanan masyarakat akan memburuk akibat perbuatan ini yang tidak memikirkan orang lain. Tidak memberikan upah/gaji yang sesuai juga termasuk perbuatan mencuri, (2) perbuatan asusila, perbuatan ini mengakibatkan kehancuran dan kesedihan dalam kehidupan bermasyarakat, (3) mengucapkan kata-kata yang tidak benar. seseorang akan kehilangan kepercayaan dalam hubungan sosial ketika mulai berbohong.seseorang tidak dapat menciptakan

kegiatan-kegiatan yang harmonis bila terdapat kejujuran. Akibatnya kegiatan sosial dan masyarakat cenderung merosot, (4) minum minuman keras akibatnya kehidupan masyarakat sangat buruk karena dipengaruhi oleh minuman keras dan obat-obatan terlarang, sehingga mengakibatkan nafsu jahat berusaha membawa kepribadian ke dalam kejahatan untuk menimbulkan suatu perpecahan (Arnold,1987:363).Berbuatlah kebaikan segera bersihkanlah pikiranmu dari pikiran jahat karena seseorang yang penuh pikiran jahat, ia akan senang melakukan perbuatan jahat (Dh.116).

Agar terhindar dari perbuatan jahat, seseorang harus meningkatkan kedisiplinan dalam pikirannya. Mempraktekan ajaran Sang Buddha sangat membantu dalam pengendalian diri. Ketika Sang Buddha menjelaskan bahwa tidak melakukan kejahatan adalah suatu berkah, pikiran bebas dari hal-hal buruk. Untuk menjauhkan dari suatu kejahatan hendaknya seseorang tidak melakukan kesalahan bahkan kesalahan dalam berpikir. Seseorang yang selalu menjauhi perbuatan jahat tidak akan merubah sikapnya, meskipun memiliki kemampuan untuk melakukannya. Seseorang menahan diri untuk tidak melakukan kejahatan, walau ada kesempatan untuk melakukannya. (Kh.II.7).

3. Kamesumicacara veramani

Artinya berpantang dari perzinahan, pencabulan, perkosaan, dan segala penyimpangan tata susila yang bernafaskan nafsu birahi tersumbar,mengindari kelakuan seks yang salah dan menjauhkan diri darinya (M.II.4). Segala bentuk perbuatan atau tindakan baik dapat mendukung seseorang untuk mempunyai ketenangan batin dengan cara memberikan dana, melaksanakan sila, berlatih meditasi, dilakukan baik sebelum berbuat maupun sedang berbuat dan setelah perbuatan itu di lakukan dengan tujuan tidak mengharapkan imbalan disebut dengan perbuatan tingkat tinggi, sedangkan jika melakukan perbuatan baik, misalnya memberikan dana, melaksanakan sila, berlatih meditasi baik sebelum dilakukan, maupun sedang di lakukan dan setelah dilakukan seseorang tersebut masih mengharapkan imbalan disebut perbuatan tingkat rendah (D.III.273).

Sebagai konsekuensi logis seseorang mengikuti suatu ajaran atau agama, maka dihadapkan pada kewajiban untuk mengindari kejahatan. Bentuk sederhana penghindaran kejahatan adalah yaitu adanya lima latihan kemoralan yang terdiri dari latihan menghindari pembunuhan/penganiayaan, menghindari pencurian atau mengambil barang yang tidak diberikan secara sah, menghindari pelanggaran kesusilaan, menghindari kebohongan serta menghindari mabuk-mabukan atau menggunakan barang-barang yang dapat melemahkan atau bahkan menghilangkan kesadaran. pada mulanya, mungkin hanya sebagian dari kelima latihan ini yang berhasil dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan bertambahnya waktu seseorang akan terbiasa dengan pelaksanaan kelima latihan tersebut (A.IV.51)

F. Sikap Orang Bijak

Sikap orang bijak menyadari suatu kesalahan dan memaafkan orang lain yang telah mengakui kesalahannya, tidak ikut campur dalam tugas yang tidak diberikan pada dirinya, tetapi menunaikan tugas yang diembankan pada dirinya, menganggap sesuatu yang tidak layak apabila tidak layak, sebaliknya menganggap sesuatu layak apabila sesuatu itu layak, menganggap sesuatu benar kalau memang benar, menganggap sesuatu salah kalau memang salah, berani bersikap disiplin pada waktu yang tepat (A.II.33-34).

Sappurisa Sutta (A.II.33-34).

G. Manfaat bergaul dengan orang bijaksana (Pandita Sevana)

Kualitas batin yang lebih baik dapat timbul jika seseorang mulai menyadari sebab dan akibat dari sikap serta perbuatannya sendiri memiliki pengertian bahwa orang yang melakukan kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan, Sedangkan orang yang melakukan

kejahatan akan mendapatkan penderitaan. Jika seseorang tidak ingin disakiti maka hendaknya tidak menyakiti makhluk lain. Mereka yang hidup sesuai Dhamma yang telah diterangkan dengan baik, akan mencapai seberang menyeberangi alam kematian yang amat sukar untuk diseberangi (Dh.86). Ia yang mengenal dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran tenang, orang bijaksana selalu bergembira dalam ajaran yang dibabarkan oleh para ariya (Dh.78)

Bergaul dengan orang bijak mengandung banyak manfaat untuk diri sendiri yang diantaranya nama baik seseorang akan tersohor, kemapanan dalam kehidupan yang baik akan tercapai, dengan segala perbuatan yang dilakukan dengan baik maka seseorang tersebut akan memperoleh suatu pujian yang baik, kebiasan-kebiasaan yang baik atau sila mempunyai tujuan supaya tidak ada suatu penyesalan. Memperoleh benyak keberuntungan sebagai hasil dari ketekunanya, namanya harum tersebar keluar, mudah diterima apa bila masuk kedalam suatu perkumpulan baik dalam golongan ksatria, brahmana ataupun dalam rumah tangga, meninggal dengan ketenagan, setelah kematianya maka hancurnya badan jasmani dan terlahir ke dalam alam sorga yang menyenangkan (D.ii.86).

Sesungguhnya tiada seberapa nilainya keharuman tagara dan kayu cendana, bila dibandingkan dengan keharuman orang yang berbuat kebajikan membumbung tinggi sampai kealam dewa sesungguhnya sangat mulia kebajian itu (Dh.56). Mampu menjadikan dirinya sebagai contoh teladan bagi masyarakat yang lainya, kekikiran, kecemasan mudah didapat, berucap yang baik, mempunyai sila yang baik, kemalasan dapat terkikis, tidak melanggar sila yang ada, kesombongan akan dirinya karena suatu keberhasilan dapat terkikis, berbuat kebajikan pada yang lain dengan tanpa mengharapkan imbalan, hidupnya sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada (Vism.29). Orang tersebut adalah sebagai panutan keluarga yang baik bagaikan rembulan di antara bintang-bintang (S.II.197).

Orang bijak selalu diliputi cinta kasih kepada semua orang, makhluk-makhluk di alam sekitarnya sanggup berada di antara orang yang baik maupun yang jahat. Ibarat bunga teratai yang tumbuh di atas air, namun tetap tidak tersentuh oleh air tersebut. Pikiran-pikiran baiknya ditujukan kepada siapa saja dan mempengaruhi orang yang jahat menjadi baik. Sebaliknya orang bijak tidak akan terpengaruh dengan orang-orang jahat mampu melindungi dirinya sendiri dari sifat-sifat jahat yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kehidupan ini penuh dengan kebingungan, gangguan, dan kekacauan, tetap mampu bersikap tenang. Orang bijak memiliki sifat murah hati, sehingga selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan, bahkan senantiasa memaafkan orang lain yang pernah menyakitinya (A.II.33).

Refrensi

Buddhagosa, Bhadantacariya.1996.Jalan Kesucian (Visuddhi magga). Tranlated By nanamoli.Bali. PT. Indografika Utama

Buddhis Legends (Dhammapada) part III, Commentary Bur Lingame, Eugene W The Minnor Anthology of Pali Canon (Dhammapada and Khuddhakapatha) Part II. Translated by Davids, Rhy.1999.Oxford: The Palitext Society atson.1995.Oxford : Pali Text Society.

Dhammananda, Sri K.2004. Keyakinan Umat Buddha. Alih Bahasa: Ida Kurniati. Yayasan Penerbit Karaniya.

Dialogues Of the Buddha (Digha Nikaya) Vol I. Translated By Muller. Max.1997. London : The Pali Text Society.

Dialogues Of the Buddha (Digha Nikaya) Vol II. Translated By Muller. Max.1997. London : The Pali Text Society.

Dialogues Of the Buddha (Digha Nikaya) Vol III. Translated By Muller. Max.1997. London : The Pali Text Society

Mukti, Wijaya. K.2003. Wacana Buddha Dharma. Jakarta : penerbit yayasan Dharma Pembangunan.

Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi ke Tiga. Departemen Pendidikan Nasional. Balai Pustaka:2000:Jakarta.

Stein that, Pahl (Ed). Udana. London : The Pali Text Society. 1982

The book Of The Gradual Sayings (Angutara Nikaya) Vol.1. Translated by F.l Woodward, M.A.London dan Boston.1982.

The book Of The Gradual Sayings (Angutara Nikaya) Vol.II. Translated by F.l Woodward, M.A.London dan Boston.1982

The book Of The Gradual Sayings (Angutara Nikaya) Vol.III. Translated by F.l Woodward, M.A.London dan Boston.1982

The book Of The Gradual Sayings (Angutara Nikaya) Vol.IV. Translated by F.l Woodward, M.A.London dan Boston.1982.

The book Of The Gradual Sayings (Angutara Nikaya) Vol.V. Translated by F.l Woodward, M.A.London dan Boston.1982.

The Book Of Sayings (Samyuta Nikaya) Vol I. Terjemahan Wood War.Davids (ed).1975.London:Pali Text Society.

The Book Of Sayings (Samyuta Nikaya) Vol II. Terjemahan Wood War.Davids (ed).1975.London:Pali Text Society.

The Debate of King Milinda An Abridgement of The Milinda Panha. Oleh Bhikkhu Desala. 2002. Wisma Meditasi.

The group of discurses (sutta Nippata) Volume I. Transleted  by Norman, K.R.1984.London:The Pali Text Society.

The Middle Length Sayings (Majhima nikaya) Vol.1. Translated by Hoener, I.B.1987. London : The Pali Text Society

The Middle Length Sayings (Majhima nikaya) Vol.II. Translated by Hoener, I.B.1987. London : The Pali Text Society.

The Middle Length Sayings (Majhima nikaya) Vol.III. Translated by Hoener, I.B.1987. London : The Pali Text Society.

The Minor anthologies of pali canon (Dhammapada and Khuddhakapatha) Part I. Transleted by. Davids, Rhy.1999.Oxford :The Pali Text Society.

The Minor anthologies of pali canon (Dhammapada and Khuddhakapatha) Part V. Transleted by. Davids, Rhy.1999.Oxford :The Pali Text Society.

The group of discurses (sutta Nippata) Volume I. Transleted  by Norman, K.R.1984.London:The Pali Text Society.

Wahyono, Mulyadi.2002.Pokok-Pokok dasar Agama Buddha. Jakarta : Departemen Agama RI.

Sudaryanto, S. (2020). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia (Perspektif Filsafat Pendidikan Bahasa). Lateralisasi, 8(2), 92–99.

Wijaya-Mukti, K. (2003). Wacana Buddha-Dharma. Yayasan Dharma Pembangunan.

1
Scroll to Top