3
0

MENUMBUHKAN SIKAP RENDAH HATI

Bhadrapurisa Thera

 

 

A. PENDAHULUAN

Sebagai manusia hendaknya selalu melatih sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan keluarga maupun dimasyarakat. Kerendahan hati merupakan suatu sikap yang positif dan merupakan pondasi dalam melakukan suatu kebajikan. Sesuai benih yang ditabur begitulah buah yang akan dipetik, penabur kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan dan penabur kejahatan akan mendapatkan  penderitaan (S.i.227).

Dalam Buddha bersabda kerendahan hati berarti kesederhanan dalam sikap dan pikiran, seseorang yang memiliki hal ini berarti telah menyingkirkan kesombongan dan tinggi hati, seperti yang terdapat dalam Vatthupama Sutta Sang Buddha memberikan perumpamaan seperti kain yang bersih, seseorang yang rendah hati dan sederhana layak menerima ajaran Dhamma. Sikap rendah hati dapat diterapkan dengan memberikan penghormatan kepada yang patut dihormati, rendah hati dan hormat kepada yang patut dihormati adalah suatu berkah termulia. Orang yang pantas dihormati adalah orang yang memiliki sila yang baik, serta pelaksanaan yang tekun pada Dhamma. Dalam hal ini orang yang patut dipuja adalah orang yang memiliki kebajikan luhur atau tataran puncak.

Individu yang memiliki kerendahan hati adalah dikatakan orang bijaksana, Buddha menjelaskan dalam Sigalovada sutta orang bajik dan bijaksan, lemah-lembut dan sunguh-sungu, rendah hati dan penurut orang yang demikian akan memperoleh kehormatan (D.iii.31). Di dalam Puggalapunnati Sutta Buddha bersabda di hutan jeta dekat kota savatthi kepada perumah tangga mengenai ciri orang bijak ”O, perumah tangga seseorang dapat dikatakan bijak apabila memiliki empat ciri (1)  Ketika dipuji orang lain, tidak menjadi sombong, (2) Ketika mendapat celaan dari yang lain, tidak menjadi marah, (3) memuji dengan tulus perbuatan baik orang lain, (4) Ketika mengetahui kesalahan oarang lain, ragu akan hal itu. Inilah empat ciri orang bijaksana. (A.4.73)

Memiliki sifat rendah hati dan hormat menghasilkan keharmonisan dalam masyarakat (Dhammananda, 2005:228). Berendah hati dan hormat menyebabkan kelahiran dalam keluarga luhur dan akan terbebas dari kesedihan dan ratapan tangis “ia yang menghormati  mereka yang patut dihormati, yakni para Buddha dan para siswa-siswanya yang telah mengatasi rintangan-rintagan, akan bebas dari kesedihan dan ratap tangis” (Dh.195).

Setiap manusia selalu diliputi kesombongan (Manna) dengan adanya kesombongan menganggap dirinya paling baik, sehinga tidak menghargai pihak lain, lupa akan  kewajiban dan tanggung jawab sebagai umat Buddha. Banyak anak-anak yang sombong dan egois pada orang tua, guru, saudara dan teman-teman karena tidak memiliki sikap rendah hati. Menghargai individualitas tidak berarti menerima individualisme yang bersifat egoistis. Buddha menolak keakuan dan egoisme (S.ii.21). Kerendahan hati merupakan bentuk sikap yang positif yang perlu ditumbuh kembangkan. Cara menumbuhkanya yaitu dengan memiliki sifat Hiri dan ottapa. Hiri dan ottapa, malu berbuat jahat dan takut akan akibat perbuatan jahat yang murni dapat menimbulkan sikap rendah hati, selalu berhati-hati dan teliti (Dhs.30.38).

 

B. PENGERTIAN SIKAP RENDAH HATI

Rendah hati dalam bahasa pali disebut nivata, secara etimologi bahawa nivata berhasal dari kata”Ni” yang artinya didalam, kedalam, bawah, kebawah. ”vata” yang berati tentu, sesungguhnya, bahwasanya. Nivata merupakan menujukan  kata sifat (adjektif). Dan digabungkan menjadi kata Nivata yang dalam bahasa english dari (Nivata) adalah kerendahan hati (lowliness), sederhana (humbleness), kepatuhan, patuh (obedience), lemah lembut (gentleness). (Davids and Stede, 1992:372). yang kesemuanya identik dengan arti  kata rendah hati merupakan suatu sikap yang tidak sombong atau tidak angkuh (Anto & Anita, 2019).

Istilah nivata identik dengan kata apacayana yaitu berendah hati dan hormat (menghormat mereka yang lebih tua dan pantas dihormati), (Sn.1.3 ). Berhubungan dengan sikap bahwa rendah hati adalah suatu sikap menghargai atau menghormati pihak lain, lemah lembut, ceria, mudah diajak bergaul serta penurut seperti sikap sigalo yang menuruti permintaan ayahnya, yang sebelum meninggal dunia ayah Sigalo berpesan untuk menghormati ke enam arah yaitu; orang tua sebagai arah timur, guru sebagai arah selatan, anak dan istri sebagai arah barat, sahabat dan sanak keluarga sebagai arah utara, pelayan dan karyawan sebagai arah bawah, serta pertapa sebagai arah atas (D.iii.192).

Dalam karya klasiknya, "Mere Christianity", Lewis menyatakan bahwa rendah hati bukan berarti berpikir lebih rendah tentang diri sendiri, tetapi berpikir lebih sedikit tentang diri sendiri. Ini berarti mengalihkan perhatian dari diri sendiri kepada orang lain dan kepada hal-hal yang lebih besar  (Werther, 2024). Sejalan dengan itu dalam buku "The Purpose Driven Life", Rick Warren mendefinisikan rendah hati sebagai fokus pada kebutuhan orang lain dan melayani tanpa pamrih. Rendah hati melibatkan kesediaan untuk belajar dan menerima masukan (Warren, 2012).

 

Kerendahan hati menujukan keadaan yang bersifat baik dari suatu ungkapan yang mendalam dari sifat manusia seperti sikap raja Pasenadi mengungkapkan wujud rasa kerendahan hati yang sangat mendalam menyatakan, mempersembahkan kesetiaan dan rasa baktinya kepada Buddha dengan penuh cinta kasih (A.iii.191: M.v.151).

 

Dalam bukunya "Emotional Intelligence", Goleman mengaitkan rendah hati dengan kesadaran diri yang tinggi, kemampuan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan tanpa menjadi sombong atau terlalu merendah. Rendah hati adalah bagian dari kecerdasan emosional yang mendukung hubungan sosial yang sehat (Goleman, 2005). (Gandhi, 2002)  menyatakan bahwa rendah hati adalah sikap batin yang menolak kesombongan. Baginya, rendah hati adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang untuk tetap teguh pada prinsip tanpa merendahkan orang lain.

Sikap rendah hati diterjemahkan secara beragam oleh beberapa penulis, menurut (Augustine, 1991) mengkonsepsikan bahwa kerendahan hati adalah ukuran terbaik bagi manusia untuk mengetahui perbedaan  antara apa yang  ada (what is), dan apa yang akan terjadi (what is yet tu be) ”Buddha sendiri memulai perjalananya dengan membuang predikat kebangsawanannya, beliau mencapai Buddha tetapi tidak pernah kehilangan kewajarannya, tidak pernah mengasumsikan kekuatan super ajarannya dan contoh-contoh yang dibawakannya senantiasa sederhana, beliau adalah orang yang  paling rendah hati.

Selain Augustine, konsep ini juga diperluas oleh Jonathan Edwards, dalam (Spohn, 2003) seorang teolog Puritan, dalam karyanya Charity and Its Fruits. Edwards menyebutkan bahwa: Kerendahan hati adalah fondasi kebajikan karena memungkinkan seseorang menerima kenyataan apa adanya, sementara tetap mengarahkan dirinya pada kemungkinan yang lebih besar di masa depan selaras dengan itu (Dods & Shaw, 1993) menunjukkan bahwa kerendahan hati adalah sikap batin untuk menerima apa yang ada sambil bekerja untuk kondisi yang lebih baik di masa depan.

(Hanh et al., n.d.) mengartikan kerendahan hati sebagai kesederhanaan dalam sikap maupun pikiran mencankup kesederhanaan dalam bertindak dan berucap, kesederhanaan dalam bertindak yaitu tidak menyombongkan diri dan sederhana dalam bebicara atau berucap adalah mereka yang tidak banyak bicara, hanya bicara seperlunya, menghindari kegemaran gosip, dan omong kosong. Kehidupan yang sederhana merupakan sifat dari rendah hati, dikisahkan ada seorang pemuda yang kaya raya tidak kekurangan suatu apapun tetapi meskipun kaya raya , ia sangat sederhana dan selalu rendah hati kepada siapapun juga (DhA.24), kehidupan  yang sederhana adalah seseorang memelihara hati nuranai dalam kemurnian, sederhana dalam bertindak dan berbicara, tanpa menunjukan ego (Nyanakumuda, 25:41).

 

Dalam Vatta Sutta Buddha menjelaskan tiga kewajiban seorang siswa Dhamma, salah satunya adalah "sovacassatā" mudah dinasihati, tidak keras kepala, dan terbuka terhadap koreksi (A.iii.40). Lebih lanjut orang yang dapat dinasehati, ditegur atau diperbaiki. Termasuk toleran, tersenyum dan berterimakasih terhadap kerik-keritik yang ditujukan terhdap dirinya. ”seseorang yang tetap lemah lembut hatinya bila dikoreksi, sejalan dengan itu anumana sutta Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu sifat-sifat seseorang yang mudah diajak bicara yang mencerminkan sikap rendah hati yaitu: (a) Tidak mengangkat diri sendiri maupun merendahkan orang lain. (b) Tidak dikuasai kemarahan dan mencarai kesalahan orang lain karena kemarahanya. (c) Tidak membalas mencela terhadap orang yang mencelanya. (d)  Tidak kasar, dengki, tidak hiri dan sakit hati. (e) Tidak suka menipu, tdak keras kepala dan tidak sombong (M.iii.50-52).

Watak seseorang yang memiliki sifat  rendah hati  termasuk saddha carita cenderung melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan (Vis.101), tidak sombong, tidak meninggikan diri dan merendahkan orang lain, ramah-tamah didalam bergaul, ada enam perinsip keramah-tamahan yang menciptakan cinta kasih, sifat rendah hati dan hormat serta menuju sifat mau membantu, tanpa perselisihan.sifat-sifat yang membuat ramah tamah: (1) Mempertahankan perbuatan-perbuatan cintakasih lewat pisik baik ditempat umum secara peribadi, (2) Mempertahankan  perbuatan-perbuatan cinta kasih lewat ucapan, (3) Mempertahankan perbuatan-perbuatanya cinta kasih secara mental, (4). Membagi perolehan dengan benar, (5) Memiliki sila atau moral yang tidak terpatahkan, (6) Memiliki pandangan luhur yang sama      (A.ii.379-380).

Individu yang rendah hati selalu mencari kesempatan untuk belajar, oleh karenanya orang yang memiliki kecerdasan, dengan mengigat ajaran Buddha harus membaktikan diri pada keyakinan dan moralitas menuju keyakinan dan pemahaman Dhamma (A.ii.226). Belajar menambah pengetahuan, bersikap rendah hati, memakai pikiran baik, mau mendengarkan nasehat dan pendapat orang lain, dengan berkumpul dan mendengar pertemuan-pertemuan spiritual, bersahabat dengan orang baik Memahami nilai kerendahan hati mereka juga akan mengerti pentingnya memperbaiki diri secara terus menerus ini tidak hanya mencankup upaya mencari pengetahuan yang lebih tinggi, tetapi juga meliputi kebutuhan untuk menjadi manusiawi, untuk menjadi lebih baik.

Bukti kongkrit dari bentuk kerendahan hati ketika para bhikkhu,  memohon untuk ditegur, saya patut diberi petunjuk oleh para bhikkhu dan apabila seseorang diajak bicara, penuh dengan sifat yang membuatnya  mudah diajak bicara, penurut, maupun penerima petunjuk maka rekan bhikkhunya akan menilai bahwa ia harus diajak bicara dan ia patut diberikan petunjuk dan kepercayaan, seharusnya diberikan kepada orang ini (M.iii.49).

Mengacu dari berbagai penapsiran, dapat disimpulkan bahwa sifat rendah hati merupakan suatu bentuk-bentuk batin, berupa berpikir untuk menghargai dan tidak merendahkan orang lain (M.iii.50). Sifat rendah hati timbul diawali aktifitas pikiran bereaksi dengan objek selanjutnya diungkapkan dalam bentuk perilaku melalui ucapan dan perbuatan. Kondisi batin individu yang memiliki sikap rendah hati merupakan kondisi batin orang yang bajik dan bijaksana, lemah-lembut dan sunguh-sunguh, rendah hati dan penurut, ia yang demikian akan memperolah penghormatan (D.iii.34). Buddha bersabda ”O, perumahtangga, seseorang dapatlah dikatakan bijaksana bila memiliki empat ciri. Apakah empat ciri tersebut? Dalam hal ini ketika  dipuji orang lain, tidak menjadi sombong, begitu juga ketika mendapat celaan dari yang lain, tidak menjadi marah, memuji dengan tulus perbuatan baik orang lain, ketika mengetahui kesalahan orang lain, ragu akan hal itu, inilah empat ciri orang bijak  (A. IV.113).

Kerendahan hati timbul karena adanya keyakinan yang tinggi, orang yang mempunyai keyakinan adalah orang yang randah hati dan mau belajar dari setiap orang (Suminta, 2016), karena rasa keyakinan dan baktinya  bhikkhu Ananda menjadi pembantu setia  Buddha selama dua puluh lima tahun mendampingi Tathagatha menunggu, melayani dengan perbuatan dengan penuh kasih yang seperti bayangannya mengikuti dia (Thg.184).

 

a. Akar Sikap Rendah Hati

Sikap rendah hati berakar dari memiliki kesabaran dan mengembangkan sifat cinta kasih (M.i.21). Individu yang mengembangkan sikap rendah hati cenderung memiliki kesabaran, lemah lembut, ramah-tamah, tidak sombong atau tidak keras kepala, jika dicacimaki tidak balik mencaci maki, jika dihina tidak balik menghina, jika  dilecehkan tidak balik melecehkan (A.iv.165). Kesabaran adalah dasar dari semua kehidupan suci, karena tanpa sifat ini orang tidak bisa tekun dalam kebaikan, tidak dapat mempertahankan dirinya terhadap pitnahan, kemarahan, kekasaran.

Mengembangkan cinta kasih kepada semua mahluk, kepada yang membutuhkanya dan tanpa batas, bahasa hati bahasa yang datang dari hati menuju hati selalu sederhana, lemah lembut dan penuh dengan kekuatan (Brahm, 2019).

Mengembangkan sikap cinta kasih kepada semua mahluk melalui kebajikan-kebajikan sepeti jujur, rendah hati, lemah lembut, tidak sombong, merasa puas dengan apa yang dimiliki, mudah dilayani, mudah disokong, hidup sederhana, tenang indranya, tahu malau, tidak melekat pada keluarga, selalu berpikir semoga semua mahluk berbahagia (Sn.143-145). Buddha menjelaskan secara rinci sifat cinta kasih dalam agama Buddha ”bagaikan ibu  melindungi anak  satu-satunya bahkan dengan resiko sendiri dengan demikian biarlah orang mengembangkan hati yang tidak terbatas bagi semua mahluk (S.i.149). Mempraktekkan cinta kasih, ketenang keseimbangan, kasih sayang, pembebasan, dan kegembiraan bersimpati pada saat yang sesuai, tidak terhalang oleh seluruh dunia (Sn.73).

 

b. Ciri-Ciri Orang Memiliki Sikap Rendah Hati

Individu yang memiliki kerendahan hati adalah orang bijaksana, Buddha menjelaskan dalam Sigalovada sutta orang bajik dan bijaksan, lemah-lembut dan sunguh-sunguh rendah hati dan penurut orang yang demikian akan memperoleh kehormatan (D.iii.31). Buddha bersabda di hutan jeta dekat kota savatthi kepada perumah tangga mengenai ciri orang bijak. ”O, perumah tangga seseorang dapat dikatakan bijak apabila memiliki empat ciri (1)  Ketika dipuji orang lain, tidak menjadi sombong, (2) Ketika mendapat celaan dari yang lain, tidak menjadi marah, (3) memuji dengan tulus perbuatan baik orang lain, (4) Ketika mengetahui kesalahan orang lain, ragu akan hal itu. Inilah empat ciri orang bijaksana (A. IV.113).

 

c. Faktor Penghambat Upaya Menumbuhkan Sikap Rendah Hati

Sikap rendah hati sulit untuk ditemukan selama manusia masih dikuasai sikap tidak tahu malu (ahirika), tidak takut akibat perbuatan yang salah (Anottpa) (Wijaya-Mukti, 2003). Corak batin inilah yang menjadi penghambat atau penghalang dalam upaya menumbuhkan sikap-sikap baik seperti jujur, sikap rendah hati dan tidak sombong. Ahirika  dan anottapa wujud aslinya adalah akusala citta 12 yaitu lobha, dosa, moha yang bersekutu dengan pandangan salah sebagai pemimpin

 

Lobha  secara etika berarti ketamakan, tetapi secara psikologi berati terikatnya pikiran oleh obyek-obyek. Lobha kadang disebut tanha atau keinginan dan lobha juga disebut kamma atau nafsu indria, kadang juga disebut raga atau hawa nafsu. Dosa  secara etika berarti kebencian, tetapi secara psikologis berarti pukulan yang berat dari pikiran terhadap obyek, yaitu pertentangan atau konflik. Yang merupakan patigha atau dendam, dan adassana tidak senang dan kemauan jahat (Kaharudin, 1991:102).  Moha berarti kebodohan batin atau kurang perngertian, juga disebut avijja (tidak tahu) atau annana (tidak berpengetahuan) atau adasana (tidak nampak atau tidak mengerti) (Tim penyusun, 2005:24-25) yang menjadi sebab utama dari sifat-sifat mental yang negatif seperti kesombongan, keegoisan, pencurian, dan pemerkosaan.

 

Buddha bersabda bahwa di dunia ini, mereka yang kasar, sombong, memfitnah, berkhianat, tidak ramah, sangat egois, pelit, dan tidak memberi apapun kepada siapa pun, inilah bau busuk (Sn.244). Nafsu dan kebencian muncul dari egoisme, demikian juga rasa tidak puas, kemelekatan dan ketakutan. Dari sana pula pikiran-pikiran spekulatif muncul dan mengusik pikiran bagaikan anak-anak mengusik burung-burung gagak (Sn.271), dan mereka yang membalas kemarahan akan memperburuk diri sendiri (S.ii.880), dengan memiliki nafsu buruk maka bentuk-bentuk sikap yang positif sulit untuk dikembangkan.

 

d. Manfaat Sikap Rendah Hati

Menjauhkan diri dari perbuatan buruk berupa praktik-praktik tidak suci (abrahmacaria) bodhisatava memiliki sikap rendah hati, tenang jasmani dan pikiranya, disayang oleh orang-orang lain, memiliki reputasi yang baik (Sayadaw, 2008:149). Dalam masyarakat, orang yang rendah hati akan mendapat dukungan dan kepercayaan publik.

 

Orang yang rendah hati tidak pernah kekurangan dan selalu di berkahi, seperti aliaran air yang selalu mengalir dan  mengisi tempat yang rendah. Demikian juga para dewa dewi mahluk halus akan selalu menimpakan bencana kepada yang sombong dan memberi rezeki kepada yang rendah hati. Demikian juga manusia, orang yang sombong selalu dibenci menghormati orang yang rendah hati. Memiliki sikap rendah hati dan hormat menghasilkan keharmonisan dalam masyarakat (Saputra & Ekawati, 2020).

 

Seseorang yang telah melakukan perbuatan baik ia akan memperoleh suatu kebahagian dan setelah meninggal dunia terlahir dialam bahagia sesuai dengan kebajikanya ”seseorang yang tidak memiliki sifat tamak, berendah hati, tidak jahat, tidak membenci, selalu berpikir penuh cinta kasih, semoga semua mahluk hidup terbebas dari permusuhan, kebencian, kekhawatiran dan hidup bahagia, maka perbuatan benar sesuai dengan Dhamma itu memungkinkan seseorang untuk terlahir di alam bahagia (M.i.285-289).

 

C. PENERAPAN  SIKAP RENDAH HATI

Penerapan sikap rendah hati  dapat diterapkan kepada yang patut dihormati (pujaniapugala) karena kebijaksanaannya dan silanya dan pelaksanaan yang tekun pada Dhamma. Dalam hal ini orang yang patut dipuja ialah orang yang memiliki kebajikan spesifik atau dalam tataran tertentu sampai dengan memiliki kebajikan luhur atau dalam tataran puncak (A.iii.191).

 

a) Penerapan Sikap Rendah Hati Kepada Triratna

Dengan Penuh Keyakinan Buddha merupakan perlindungan pertama yang patut dihormati sebagai bentuk kerendahan hati karena mengundang untuk pengertian bahwa setiap orang mempunyai benih kebuddhan dalam dirinya, bahwa setiap orang mencapai seperti apa yang dicapai oleh Buddha.

Seperti halnya penghormatan kepada Buddha mengandung artinya bahwa Buddha memiliki kebajikan, yaitu: Araham (manusia suci terbebas dari kekotoran batin), Samma SamBuddha (manusia yang mencapai penerangan sempurna dengan kekuatan sendiri), Sugato (yang terbahagia), anuttaro purissadhammasarati (pembimbing umat manusia tanpa bandingnya), satthadeva manusanam (guru junjungan para dewa dan manusia), Buddho (pembangun kebenaran), bhagava (junjungan).

Menghormati Buddha sebagai bentuk kerendahan hati  yaitu menunjukan sikap rendah hati dengan perbuatan badan jasmani, ucapan dan pikiran, yaitu membebaskan diri dari perbuatan jahat, melakukan perbuatan baik dan menyucikan batin (Panjika, 1994:218). Pada masa kehidupan Buddha dipankara datang empat ratus ribu Arahanta, Dewa dan manusia menyambut dan memukul genderang sebagai wujud rendah hati dan rasa kegembiraan dengan menyayikan lagu-lagu selamat datang untuk menghormati Buddha (Sayadaw, 2008:44-45).

Dhamma merupakan ajaran sang Buddha, menghormat Dhamma sebagai bentuk kerendahan hati mengandung pengetian bahwa melaksanakan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari (A.ii.53), melalui perlindungan kepada Dhamma sehingga apapun yang dilakukan mempunyai kaitan dengan ajaran sangbuddha. Maka menghormat dan rendah hati pada Dhamma berarti berlindung pada Dhamma dengan niat yang sunguh-sungguh, hingga tercapainya nibbana, berlindung kepada Dhamma yang lampau, Dhamma akan datang, dan Dhamma yang sekarang.

Menghormat Sangha sebagai bentu kerendahan hati berarti menghormat pasamuan para bhikkhu suci (Bhikkhu Sangha) yang telah mencapai tingkat kesucian (Arya Pugala). Sangha merupakan teladan yang patut dicontoh, patut diberi penghormatan, patut dipuja. Yaitu kepada sangha yang lampau, sangha yang akan datang, sangha sekarang ini, setiap hari aku menyampaikan hormatku.

Menghormati Sangha sebagai wujud kerendahan hati yaitu mengikuti apa yang dilakukan oleh sangha. Mengetahui bahwa seklompok orang yang telah mendengarkan ajaran sang Buddha dan mereka telah memperaktekan secara tepat sesuai dengan dhamma dan vinaya yang disebut sangha.

 

b) Penerapan Sikap Rendah Hati Kepada Orang Tua Atau Keluarga

Orang pertama yang semestinya patut dihormati sebagai rasa kerendahan hati adalah  orang tua dan sanak keluarga, karena mereka semua adalah orang-orang yang banyak memberikan kebajikan terlebih dahulu (pubbakari). Yaitu membesarkan, merawat, mendidik dengan penuh cinta kasih yang tulus. Kebajikan ini tampak dalam mereka membawa kita dalam lingkungan dan kebajikan yang membuat seorang ibu dan menjadi patut dihormati (Khp.3).

Penerapan sikap rendah hati kepada orang tua atau keluarga menunjukan gambaran bahwa anak bersikap rendah hati dan berbakti kepada oarang tua hendaknya dengan penuh cinta kasih merawat, memikul beban kewajiban-kewajiban, mempertahankan keturunan dan tradisi orang tua, keluarga, menjadikan dirinya pantas menerima warisan, melakukan perbuatan-perbuatan baik dan melakukan upacara-upacara agama setelah orang tua meninggal (D.iii.190).

Merawat orang tua yang telah mendidik, membesarkan dan mengarahkan anak pada hal-hal yang terpuji adalah suatu hal yang mulia. Anak yang rendah hati dan berbakti memberikan segala kemampuan dan keterampilannya untuk kebahagiaan orang tuanya. Anak yang rendah hati tahu kewajiban yang harus dikerjakan ketika orang tuanya sudah tidak sanggup lagi melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Orang tua tidak mampu bekerja hendaknya diberi perhatian yang lebih baik, merawat ketika sakit, mendorong agar mengembangkan kemurahan hati dan menganjurkan untuk mendengar dan mempelajari Dhamma.

Menjaga garis keturunan dan nama baik keluarga merupakan tanggung jawab setiap anak. Seorang anak yang rendah hati dan berbakti tidak hanya memperhatikan urusan keluarga, tetapi memperhatikan sanak saudaranya dan membantu yang perlu memdapatkan pertolongan. Memelihara garis silsilah keluarga berarti memperbaiki integritas dan kehormatan keluarga.

Menjadikan diri pantas menerima warisan berati berusaha menghindari perbuatan buruk, tidak bergaul dengan orang yang jahat, bergaul dengan para bijaksana, bersikap dewasa dalam berpikir dan bertindak. Setelah melakukan perbuatan baik, anak yang mendapatkan warisan harus pandai dalam mengelola warisannya. Mengelola warisan dengan tidak menghambur-hamburkan untuk kesenangan, tetapi menggunakan harta itu untuk modal usaha yang sudah ada sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup. karena orang tua telah banyak untuk anak-anak mereka, memberinya hidup, menyusuinya dan membesarkannya dan membawa ke dunia ramai (It.109;A.ii.69). Orang tua disebut brahma (Brahma matapitaro) istilah brahma mempunyai arti yang luhur dan keramat dalam alam pemikiran orang India dan istilah ini mencangkup orang tua (A.ii.69).

 

c) Penerapan Sikap Rendah Hati Kepada Pemuka Atau Pemimpin, Majikan

Buddha merupakan figur seorang tokoh pemuka agama yang perlu ditauladani, karena sikap Budhha ini menunjukan bahwa beliau sebagai seorang pemimpin agama yang tidak mengunakan kesempatan untuk keuntungan peribadi seperti layaknya pemimpin agama pada saat sekarang ini. Melihat latar belakang Buddha sudah jelas tidak membutuhkan suatau kehormatan, kekuasaan, pujian sekaligus pemujaan dari siswa ataupun masyarakat karena semua jabatan telah lama di tinggalkan sejak menjadi putra mahkota. Setelah melihat empat peristiwa yaitu: orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa dan kemudiaan pangeran siddharta meninggalkan istananya untuk menjadi seorang pertapa yang meninggalkan kesenangan duniawi (Spiro, 1982).

Kesempatan untuk dapat memegang kedudukan sosial dalam status tinggi tidak bisa dicapai oleh setiap orang kenyataan seperti itu patut seseorang tempat bersikap rendah hati dan dihormat, bagi mereka  yang menjadi bawahannya. Banyak kualitas yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum seorang pemuka patut dipuja sebagai rasa kerendahan hati. Kemampuan dan keterampilan yang memadai serta tanggung jawab yang penuh terhadap kedudukan sosial yang dipegang adalah kualitas utama yang tidak boleh ditinggalkan dan harus memiliki kearifan yang tajam dan jiwa pengabdian yang tulus dalam mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan kedudukan sosial dan selain itu juga harus merupakan pemuka yang senantiasa memperhatikan kesejahteraan bahwa dengan menyeluruh atau mempraktekkan kewajiban maha raja yang biasa disebut dasaraja dhamma (D.iii.66).

Pemerintah atau pemimpin hendaknya memiliki dan mempraktekkan Dasaraja Dhamma atau sepuluh macam kebajikan  adapun yang temasuk sebagi berikut, gemar berdana, beramal, memiliki sila yang baik, rela berkorban, berhati tulus berperilaku ramah tamah, hidup bersahaja, tak gampang marah, tidak bersifat kejam, mempunyai kesabaran, dan tidak suka menimbulkan dan mencari permusuhan, melaksanakan kemoralan, terampil dalam jhana-jhana, berusaha membebaskan diri dari keduniawian (D.i.61). Raja yang bijaksana dan adil harus memperhatikan serta mengutamakan kesejahtraan dan kebahagiaan penduduknya, melaksanakan kewajiban raja seutuhnya dan tidak menyalah gunakan kekuasaannya hidup dengan melaksanakan sila atau kemoralan. Menjaga ketenagan batinnya mengendalikan diri dari nafsu-nafsu indra.

 

d) Penerapan Sikap Rendah Hati Kepada Guru

Guru yang profesional harus benar-benar berkualitas agar para siswa berendah hati dan di hormati. Guru dikatakan berkualiatas apabila menguasai bidang pengetahuan atau keterampilan serta keahlian dan mampu mengajarkan terhadap siswa dengan rasa yang tulus, mampu menjadi teladan serta seta membimbing dalam usaha mencapai kebebasan akhir (D.i.301).

Diantara murid dan guru hendaknya haru membina sikap rendah hati sehingga hubungan menjadi harmonis. Dan sebagai murid harus menghormati dan mendengarkan kata-kata guru, harus mengurus keperluanya dan harus belajar dengan tekun dan sunguh-sunguh. Tekun dan patu tehadap guru, melaksanakan dan memperaktekan ajaran yang diberikan guru  merupakan suatu bentuk sikap rendah hati pada guru dan sebagai murid yang baik, hendaknya mengunjungi guru pda saat yang tepat, yang patuh, yang membuang keras kepalanya, mengingat dan mempraktekkan ajaran, memiliki pengendalian diri dan bermoralitas (Sn.326).

 

e) Penerapan Sikap Rendah Hati Kepada Saudara Atau Teman

Pengembangan sifat rendah hati kepada sahabat atau teman menujukan suatu gambaran bahawa Buddha telah memberikan anjuran bahwa beliau adalah teman yang siap menolong semuanya. Bersikap rendah hati kepada sesama teman dan selalu mengembangkan pikiran yang penuh cinta kasih kepada semua mahluk. Sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu berada dalam keadan suka maupun duka.

Sahabat yang baik adalah mereka yang selalu menemani, membantu didalam suka maupun duka dengan cara bermurah hati, ramah tamah, memberikan bantuan, memperlakukan mereka seperti memperlakukan diri sendiri dan berbuat sebaik ucapannya (D.iii.190). Dengan saling memberikan tempat meneduh dan saling tolong menolong, berbicara sopan dan menyenangkan. Harus bekerja untuk kejayaan bersama, menjauhi perselisihan (Muhtar, 2018)

Sahabat yang baik dapat menjadi guru yang membantu menumbuhkan keseimangan batin. Sahabat yang tidak baik justru menimbulkan masalah (Pandit, 2005:208). Sahabat yang baik (kalyanamitta) adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat baik serta membawa kemajuan batin, sahabat yang sepenuhnya mementingkan kesejahtraan dan menyukai kemajuan (Vism.98). Buddha memberikan gambaran seorang sahabat baik adalah mereka yang memiliki sifat-sifat khusus, yaitu ”ia dihormati dan sangat dicintai, dan apakah ia pandai bicara atau tidak pandai bicara, pembicaraan yang ia unkapkan memiliki arti yang dalam, ia tidak mendesak tanpa suatu alasan...” (A.iv.32).

Bersikap rendah hati kepada sahabat berarti berusaha memberikan yang terbaik kepada sahabat. Berendah hati kepada sahabat dilakukan dengan tujuan menghormati dan membahagiakan sahabat. Ramah tamah kepada sahabat ditunjukkan dengan sikap terbuka dan siap menerima sahabat dengan gembira ketika datang bertemu dengan sahabatnya. Ramah tamah dilakukan dengan cara menyambut ketika datang dan menghantarkan ketika pergi tanpa meninggalkan perasaan cemburu, sakit hati atau pemarah.

Memperlakukan sahabat dengan baik merupakan sikap rendah hati yang dapat dilakukan dengan cara mengagap sahabat sebagai bagian dari diri sendiri. Buddha memberikan penyamaan diri beliau dengan orang lain ”Begini aku, begitu pula orang lain, begini orang lain , begitu pula aku. Setelah memiliki penyamaan diri sendiri dengan orang lain, hendaknya tidak mencelakai siapapun atau menyebabkan orang lain celaka” (Sn.705).

Ucapan yang baik adalah ucapan yang dilakukan pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, tentang kebajikan dan tentang Dhamma dan Vinaya. Sahabat yang baik selalu mengucapkan hal-hal yang bermamfaat tentang kebenaran dan berusaha untuk tidak mengingkari terhadap semua yang di ucapkannya. Sahabat yang baik tidak akan berdusta, mempitnah, berbohong dan mencegah sahabat melakukan perbuatan yang tidak terpuji.

Diskripsi penerapan sikap rendah hati kepada sahabat yang diperlukan dengan cara bermurah hati, ramah tamah, memberikan bantuan, bersikap sopan dan memperlakukan mereka seperti memperlakukan diri sendiri dan berbuat sebaik ucapan menujukkan suatu gambaran bahwa sahabat akan mencintai, melindungi sewaktu lenggah, melindungi harta miliknya, menjadi pelindung saat dalam bahaya, tidak meninggalkan sewaktu dalam kesulitan dan menghormati keluarganya (D.iii.190).

 

D. MENUMBUHKAN SIKAP RENDAH HATI

Prinsip-prinsip moral yang berhubungan dengan kehidupan manusia yang berkaitan dengan hati nurani cara menumbuhkannya adalah memiliki sifat tahu malu (hiri) dan  takut akan akibat perbuatan jahat (ottapa), memiliki pengendalian diri dan pengembangan sifat luhur (A.i.51)

 

1. Memiliki Sifat Hiri Dan Ottapa

Sikap rendah hati merupakan bentuk sikap yang positif yang perlu dikembangkan yang berasal dari hati nurani seseorang. Prinsip-prinsip moral yang berhubungan dengan kehidupan manusia yang berkaitan dengan hati nurani cara menumbuhkannya adalah memiliki sifat tahu malu (hiri) dan  takut akan akibat perbuatan jahat (ottapa) (A.i.51). Memiliki sifat tahu malu (hiri) dan takut akan akibat perbuatan jahat yang murni dapat menimbulkan sikap rendah hati, selalu berhati-hati dan teliti (Dhs.30:38).

Hiri dan ottapa merupakan dua faktor kognitif kembar yang menjadi dasar pembentuk sikap dan tingkah laku seseorang. Pengembangan sikap hiri dan otapa merukn pelaksanaan sila yang akan memberikan manfaat terhalangnya perbutan-perbuatan yang secara sosial merugikan makhluk lain dan memberikan manfaat pribadi berupa pemurnian batin yang menghilangkan kekotoran batin (Bodhi,2006:65). Dengan hilangnya kekotoran batin akan menghasilkan kejernihan pikiran.

Kejernihan pikiran ketika melakukan perbuatan baik seperti menjalankan aturan morlitas (sila) dan meditasi maka kesadaran atau pikiran menjadi jernih terisi dengan keyakinan. Keyakinan benar (saddha) membasmi segala keragu-raguan, kesangsaian, kekotorn batin lainnya sehingga pikiran menjadi murni. Dengan membasmi kekotoran batin maka dapat mengasilkan orang memiilki keperayaan diri, orang yang memilki kepercayaan diri akan bersifat rendah hati.

 

2. Memiliki Pengendalian Diri

Pengendalian diri dalam Kamus Umum Buddha Dharma disebut samwara, secara harfiah berati menutup atau menyumbat suatu aliran, yaitu menutup atau menghentikan aliran pikiran-pikiran tidak baik atau jahat. Pengendalian diri dapat dilakukan melalui sila (Sila samwara). Kesadaran (Sati samwara), pengetahuan (Nana samwara), kesabaran (Khanti samwara), dan pengendalian diri melalui semangat (Viriya samwara) (Vism.8).

 

1) Pengendalian Diri Melalui Sila (Sila Samwara)

Pengendalian diri melalui kemoralan (sila) yaitu selalu mengawasi dan melaksanakan kesusilan (Kaharudin, 1994:195), atau mengontrol kata-kata dan perbuatan sesuai dengan peraturan-peraturan atau disiplin masyarakat serta kelompok (Kharudin, 1994:197). Kebajikan moral adalah dasar sebagai pendahulu dan pembentuk dari semua keindahan, oleh karena itu, hendaknya orang selalu menyempurnakan kebajikan moral dengan baik (Thag. 612)

Seseorang menjadi mulia bukan karena kelahirannya tetapi seseorang menjadi mulia karena perilaku dan perbuatannya, demikian juga seseorang menjadi hina dan tercela karena perbuatannya” (Sn.136). Mengendalikan badan adalah baik, baik pula mengendalikan ucapan, mengendalikan ucapan adalah baik, baik pula mengendalikan segala hal (S.i.73;Dh.36). Barang siapa terkendali dalam ucapan, pikiran dan perbuatan akan mampu mencapai lenyapnya kekotoran dalam hidup ini juga” (D.iii.97).

 

2) Pengendalian diri  melalui kesadaran (sati samwara)

Pengendalian diri melalui kesadaran merupakan usaha merenungkan dan memperhatikan dengan benar dan seksama gerak gerik badan, perasaan, maupun pikiran, dilakukan dengan menolak segala bentuk pikiran yang membenci, serakah dan iri hati, yang menjadi sumber kejahatan dan penderitaan, Buddha bersabda, orang yang penuh semangat, selalu sadar dan murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dengan Dhamma dan selalu waspada maka kebahagiaan selalu bertambah (Dh.24).

Sadar berarti memperhatikan sesuatu benda ataupun segala bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani dengan apa adanya, serta mampu merefleksikan pengalaman-pengalaman terhadap masa lampau, sekarang maupun akibat pada masa mendatang. Orang yang sadar adalah orang yang memiliki pikiran terlatih, teratur, bersih dari nafsu dan segala kepalsuan. Buddha membandingkan dengan orang yang bercermin mengamati dan membersihkan wajahnya sendiri, pikiran dengan cermat memeriksa, apakah mengandung berbagai kekotoran batin (A.v.92). Pengendalian diri melalui  Kesadaran (Sati samwara) menjadi sadar, tidak dibawa oleh keserakahan atau kebenciaan pada saat melihat, mendengar, mencium, mengecap, menyentuh, dan berpikir, sadar sebelum dan sesudah berpikir, berbicara dan berbuat tidak lengah dalam saat-saat apapun.

Pengendalian pikiran sangatlah penting dalam menumbuhkan sikap rendah hati, karena kata-kata dan perbuatan yang mencemikan sikap rendah hati bersumber dari pikiran. Pikiran diterjemahkan kedalam ucapan dan perbuatan. Hasil baik ataupun buruk dari kata-kata dan perbuatan semata-mata bergantung pada konsep berpikir seseorang (Piyadasi, 2003:209). Suci dalam cara hidup, sempurna dalam sila, terjaga pintu inderanya, memiliki perhatian murni dan pengertian jelas (sati-sampajanna), dan hidup puas (D.i.5).

 

3) Pengendalian diri melalui pengtahuan (nana samwara)

Pengendalian diri melalui pengtahuan (nana samwara), merenungkan hakekat dari menggunakan empat kebutuhan hidup (pakaian, makanan, tempat tinggal, obat-obatan) dan keinginan serakah, mengunakan atau menempatkan pandangan terang yang telah dicapai sewaktu berhubungan dengan orang-orang atau sewaktu menghadapi persoalan-persoalan.

Memiliki pandangan terang dapat melihat segala sesuatu apa adanya, sehingga tidak terombang-ambing oleh pikiran yang berlebihan, memiliki pandangan terang seseorang bisa jujur terhadap diri sendiri dengan segala kekurangan dan kelemahan dan kemudian mengoreksi diri sendiri. Dengan demikian kepercayaan diri yang menumbuhkan sikap rendah hati akan datang.

 

4) Pengendalian diri melalui kesabaran (khanti samwara)

Pengendalian diri melalui kesabaran (khanti samwara) mengendalikan diri pada saat mengalami sakit, kelaparan dan kesukaran, gangguan-gangguan, hinaan-hinaan dan pengalaman-pengalaman lain yang tidak menyenangkan dan pengendalian diri melalui usaha berarti menghilankan pikiran-pikiran jahat yang menujukan pada rangkaian praktek usaha memupuk kebaikan yang telah ada, mengembangkan kebaikan-kebaikan baru yang belum dimiliki, meningalkan perbuatan-perbuatan buruk yang telah ada dan mencegah timbulnya keburukan-keburukan  baru.

Pengendalian diri melalui kesabaran (khanti samvara) yaitu kesabaran yang dibebankan  pada dirinya oleh pihak lain (Narada, 1996:263). Khanti atau sabar, rendah hati, dapat memaafkan kesalahan orang lain yan dimaksud yaitu dapat menghadapi halangan, kesulitan-kesulitan dan ejekan-ejekan dengan hati yang sabar, penuh pengertian  dan dapat memaafkan kesalahan orang lain yang menyakitinya (Hansen, 2008).

 Sikap rendah hati berakar dari kesabaran yang tinggi, dengan adanya kesabaran yang dimiliki setiap individu maka kekerasan dan kesombongan tidak akan muncul yang menjadikan sikap rendah hati. Dalam kakacupama sutta menceritakan kisah Bhante Paguna, ketika ada bhikkhu yang  berbicara mencela para bhikkhuni ia menjadi marah dan tidak senang hati dan memarahi bhikkhu itu dan sebaliknya...,kemudian Buddha menasehati dan mengajarkan cara melatih kesabaran dengan meninggalkan nafsu dan pemikiran buruk dengan cara melatih tidak mengucapkan kata-kata jahat atau kasar, berdiam penuh kasih sayang serta pemikiran penuh cinta kasih, tanpa kebencian didalamnya  (M.ii.436-437).

 

5) Pengendalian diri melalui semangat (Viriya samwara)

Usaha atau semangat adalah perbuatan yang dilakukan oleh badan, ucapan, maupun pikiran yang teguh serta bersih dalam melakukan pekerjaan, baik yang bersifat jasmani maupun rohani usaha atau semangat merupakan pemberi dorongan untuk tahan terhadap penderitaan, dan bertanggung jawab atas tugas serta kewajiban yang dilimpahkan. Pengendalian diri melalui usaha yaitu berusaha untuk menghindari dan menaklukkan keserakahan, kebencian dan kebodohan serta mengembangkan dan memelihara sesuatu yang baik (A.IV.162).

Pengendalian diri melalui usaha berarti menghilangkan pikiran-pikiran jahat yang menunjukan pada empat rangkaian praktek usaha yaitu memupuk kebaikan yang telah ada, mengembankan kebaikan-kebaikan baru yang belum dimiliki, meninggalkan keburukan-keburukan yang telah dimiliki dan mencegah keburukan-keburukan baru (Vism.8)

Usaha rajin agar keadaan jahat dan buruk tidak timbul berarti mengontrol pikiran dan kemauan secara benar dan terarah sehingga dapat berguna bagi diri sendiri maupun makhluk lain di sekitarnya. Keadaan pikiran yang senantiasa terkontrol, tidak akan mudah tersinggung, marah, atapun terangsang keadaan sekitar yang dapat menyebabkan timbulnya keadaan jahat dan buruk. Usaha tersebut tidak muncul hanya dengan menyadari hakekat hidup, menerima apa adanya dan senantiasa bersifat tenang dan waspada. Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian,  orang yang sadar tidak akan mati, tetapi orang yang tidak sadar seperti orang mati (Dh.21).

Pengendalian diri menghasilkan suatau kebaikan (kayasucarita) yaitu menahan diri dari pembunuhan, menahan diri dari pencurian dan menahan diri dari perjinahan, (Vacisucarita) menahan diri dari berdusta, berbicara kasar, menahan diri dari bebicara hal-hal yang tidak perlu, (manosucarita) yaitu tidak mempunyai nafsu loba, tidak mempunyai kemauan jahat, dan berpandangan benar (D.iii.269). Berkembangnya tiga akar kebaikan tersebut didalam batin individu maka sikap dan perilaku selalu terjaga untuk membentuk sikap rendah hati.

 

3. Mengembangkan Sifat Luhur

Manusia selalu melakukan kebaikan dengan menyingkirkan kejahatan, demikian pula orang yang penuh cinta kasih tidak akan dirasuki kebencian dan kemarahan dikalahkan dengan cinta kasih, kejahatan dikalahkan dengan  kebaikan, kekikiran dikalahkan dengan kemurahan hati, dan kebohongan disingkirkan dengan kejujuran (Dh.223). Mengembangkan sifat yang luhur metta, karuna, mudita dan upekkha dalam batinya agar terbebas dari penderitaan seperti mempraktekkan cinta kasih, ketenangan keseimbangan, kasih sayang, pembebasan dan kegembiraan bersimpati pada saat yang sesuai akan memperoleh kebahagiaan (Sn.73).

 

E. DAFTAR REFERENSI

 

Anguttara Nikaya (The Book Of Gradual Sayings) Vol 1. Terjemahan Woodward. F. L. & Rhys Davids. 1989. Oxford: Pali Tex Societey.

Anguttara Nikaya (The Book Of Gradual Sayings)Vol .III. Terjemahan Woodward. F. L. & Rhys Davids. 1989. Oxford: Pali Tex Societey.

Anguttara Nikaya (The Book Of Gradual Sayings).Vol .1V. Terjemahan Woodward. F. L. & Rhys Davids. 1989. Oxford: Pali Tex Societey.

Anto, P., & Anita, T. (2019). Tembang macapat sebagai penunjang pendidikan karakter. Deiksis, 11(01), 77–85.

Augustine, S. (1991). Confessions. Translated by H. Chadwick. Oxford: Oxford University Press.

Brahm, A. (2019). Kindfulness. Bentang Pustaka.

Bhikkhu Boddhi. 2006. Jalan Kebahagian Sejati (The Noble Eightfold Path). Yayasan Penerbit Karania.

Byh, Suddhatissa. 1999. Sutta-Nipata.Vihara Boddhivamsa; Klaten.

Buddhaghosa, 1996.Jalan kesucian (Visuddhi Magga). Bali: Mutiara Dhamma

Dods, M., & Shaw, J. F. (1993). St. Augustin’s City of God and Christian Doctrine.

Digha Nikāya (Dialoque Of The Buddha) Vol.I. Translated by Davids, Rhys. 1977. London. The Pali Text Society.

Digha Nikāya (Dialoque Of The Buddha) Vol.III. Translated by Davids, Rhys. 1977. London. The Pali Text Society.

Dhammapada (The Word Of The Doctrine). Translated by Norman. 2000. Oxford: Pali Text Society.

Dhammapada Atthakatha. Tanpa tahun. Penerbit Departemen Agama R.I. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha. Proyek Pengadaan Kitab Suci Buddha

Davids, T.W. Rhys & Stede, William (ed). 1992. Pali English Dictionary. Oxford:PalitextSociety.

Dhammananda. 2005. Keyakinan Umat Buddha (What Buddhists Believ)  Yayasan Penerbit Karaniya.

Dhammika, Shravasti. 1993). Buddha Wacana. Renugan Harian Dari Kitab Suci Agama Buddha. Diterjemahkan  Oleh  Tjintjin S.Tjandra, Herlina Arman, Dan Lie Kam Lok. Karania.

Dhammananda.Tanpa Tahun. Masalah dan Tanggung Jawab (The Problem and Resposible). Penerbit Dian Dharma. Jl. Mangga II Tanjung Duren Barat.

Dhammasangani (Buddhis Manual Of Psycologikal Ethis). Terjemahan Dari Bahasa Pali Ke Inggris) Oleh Rhys David.1974. London: The Pali Text Society.

Gandhi, M. (2002). The essential Gandhi: an anthology of his writings on his life, work, and ideas. Vintage.

Goleman, D. (2005). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam.

Goenka. 1993. The Gracius Flow Of  Dharma. Bahasa Lani Anggawati dan Wewna Cintiawati. Wisma Sambodhi Klaten.

Hanh, T. N., Sri, D., & Nyanakumuda, B. (n.d.). Saat ini adalah saat terindah: syair kesadaran untuk kehidupan sehari-hari. (No Title).

Hansen, S. S. (2008). Ikhtisar Ajaran Buddha. Yogyakarta: InSight.

Muhtar, I. (2018). Tuhan, Mukmin Muttaqinkah Aku? Elex Media Komputindo.

Saputra, N. E., & Ekawati, Y. N. (2020). Skala Karakter Religius Siswa SMA Implementasi Nilai Utama Karakter Kemendikbud. Jurnal Pengukuran Psikologi Dan Pendidikan Indonesia, 9(1), 57–76.

Spiro, M. E. (1982). Buddhism and society: A great tradition and its Burmese vicissitudes. Univ of California Press.

Spohn, W. C. (2003). Spirituality and Its Discontents: Practices in Jonathan Edwards’s Charity and Its Fruits. Journal of Religious Ethics, 31(2), 253–276.

Suminta, R. R. (2016). Hubungan antara tipe kepribadian dengan orientasi religiusitas. Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah Dan Studi Keagamaan, 4(2), 214–227.

Warren, R. (2012). The purpose driven life: What on earth am I here for? Zondervan.

Werther, D. (2024). CS Lewis and the Problem of God. Cambridge University Press.

Wijaya-Mukti, K. (2003). Wacana Buddha-Dharma. Yayasan Dharma Pembangunan.

Iti-Vuttaka (The Buddha’s Saying) Translated by Ireland, Jhon D.1998. London: The Pali Text Society.

Khandaro Sangye. 2000. Menumbuhkan hati yang baik. (Awakening a kind hart).. Pemuda Wimala Dharma. Jl. Ir Juanda no 5 Bandung Jawa Barat.

Lama Zopa Riponche, 2006. Tujuan Hidup (Virtue And Reality) Penerbit Dian Dharma, Ekayana Buddhis Centre. Jakarta Barat.

Majjhima Nikāya (The Middle Length Sayings) Vol.I. Translated by Horner, I.B..1987. London: Pali Text Society

Majjhima Nikāya (The Middle Length Sayings) Vol.II. Translated by Horner, I.B.1989. London: Pali Text Society.

Majjhima Nikāya (The Middle Length Sayings) Vol.I1. Translated by Horner, I.B.1989. London: Pali Text Society.

Majjhima Nikāya (The Middle Length Sayings) Vol.V. Translated by Horner, I.B..1989. London: Pali Text Society.

Panjika. 2004.  Kamus Umum Buddha Dharma. Penerbit Tri sattva buddhist centre, Jl. Daan Mogot, Jakarta Barat.

Peter Della Santina. 2004. Fundamental Of The Buddhism. Penerbit Dharma Prabha Publication. Yogyakarta.

Samyutta Nikaya (The Book Of Kindred Sayings) Part I. Terjemahan Woodward. Davids (Ed). 1980. London: Pali Text Society

 

3
0
3
0
Scroll to Top